Peneliti Unsoed Latih Perajin Batik Motif Shibori

user
Agusigit 26 September 2022, 10:01 WIB
untitled

PUWOKERTO - Untuk memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19, peneliti jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Jawa Tengah,  Ari Asnani, S.Si.,M.Sc.,Ph.D memberikan pelatihan teknik shibori kepada perajin batik di Banyumas.
 
 
Ari Asnani , Senin (26/9/2022) menjelaskan pelatihan teknik shibori diberikan kepada para perajin batik dan ecoprint Banyumasan melalui program kemitraan masyarakat (PKM) dengan fokus akulturasi jumputan dan shibori untuk pengembangan produk UMKM Batik Putra Serayu di Desa Notog, Kecamatan Patikraja Banyumas. 
 
“Pelatihan teknik shibori diberikan kepada para perajin batik dan ecoprint Banyumasan yakni Batik Putra Serayu, unit UMKM berlokasi di Desa Notog, Patikraja,”kata peneliti Unsoed Ari Asnani.
 
Ia,   menjelaskan shibori adalah teknik tekstil dari Jepang dengan mencelup, mengikat, melipat, memelintir dan menjahit kain sehingga membentuk pola yang unik. 
 
“Teknik dan proses shibori lebih bervariasi daripada teknik jumputan yang selama ini telah umum dipakai untuk pembuatan kain jumputan. Saat ini dikenal enam teknik shibori yang dikenal yaitu Kanoko, Arashi, Itajime, Miura, Kumo dan Nui,” jelasnya.
 
Dengan akulturasi teknik jumputan dan teknik shibori untuk pengembangan desain produk diharapkan mampu menghasilkan produk dengan motif yang lebih beragam sehingga lebih kompetitif. 
 
Selain itu, kombinasi dari teknik dan inovasi produk akan membuat akulturasi jumputan-shibori menajadi salah satu produk tekstil bergaya kontemporer yang menarik.
 
Menurutnya pada umumnya, pewarna yang umum digunakan pada shibori adalah pewarna indigo yang berasal dari tanaman Indigofera tinctorial yang memberikan warna biru. 
 
“Perkembangan selanjutnya adalah penggunaan pewarna sintetis yaitu naptol, remasol, dan indigosol yang lebih praktis penggunaannya serta bervariasi warnanya,” paparnya.
 
Pada kegiatan pelatikan membatik teknik shibori, peserta utamanya adalah mitra Batik Putra Serayu, namun kegiatan ini juga diikuti oleh anggota UKM Batik seputaran Banyumas dan Purbalingga.
 
Rangkaian kegiatan pembuatan kain bermotif jumputan-shibori meliputi persiapan alat dan bahan, preparasi waterglass sebagai pengunci warna, preparasi zat warna, pelipatan kain sesuai pola yang dikehendaki, pewarnaan sudut warna dan bias warna, pengeringan kain, dilanjut dengan pencucian kain. 
 
Mitra berpartisipasi aktif untuk melakukan kombinasi pelipatan asimetri dan simetri untuk memperoleh pola-pola baru. Hasil pengembangan pola dicatat secara sistematis dan disusun sebagai panduan desain pola shibori. 
 
Hasil  kegiatan PKM adalah kain dengan pola-pola simetri-asimetri sesuai sebagai refleksi horizontal dan vertikal dari pola bentuk segitiga dan segiempat. "Tercatat sejumlah 19 motif Shibori telah dihasilkan dari kegiatan PKM ini,”ungkapnya.
 
Dalam kegiatan pelatihan ini peserta menunjukan bahwa kegiatan PKM sangat bermanfaat bagi peserta untuk mengembangkan desain motif. 
 
“Dari hasil monev kegiatan PKM menunjukan bahwa rerata tingkat kepuasan peserta adalah baik (18%) dan sangat baik (80%),”jelasnya.
 
Para peserta mengaku baru pertama kali ini membuat desain motif Shibori sehingga sangat antusias. Mereka berharap ada kelanjutan untuk akulturasi teknik-teknik shibori lainnya, terutama untuk pengembangan produk ekonomi kreatif.
 
Ari,  menambahkan pelatihan kepada para perajin merupakan upaya mempercepat pemulihan ekonomi. Makanya kami memberikan inovasi baru dalam hal desain serta kreativitas motif yang bervariasi menjadi penting untuk dilakukan. 
 
Menurutnya di masa  pandemi Covid-19 berimbas pada pada penurunan daya beli masyarakat terhadap produk non-primer. Dampaknya omset penjualan di Batik Putra Serayu ikut menurun.
 
Untuk itu Unsoed terpanggil, melakukan percepatan pemulihan dengan pendekatan inovasi.(Dri)

Kredit

Bagikan