Tagih Janji Bupati Bongkar Kafe Black Arion, Warga Dirikan Tenda Keprihatinan

user
Ary B Prass 26 September 2022, 14:57 WIB
untitled

Desakan agar bupati Karanganyar menutup dan membongkar Kafe Black Arion bergeser dari semula diplomatis ke aksi keprihatinan. Warga Desa Gedongan Colomadu yang tergabung di Forum Masyarakat Gedongan Bersatu (FMGB) bertahan tanpa pulang depan kantor bupati selama berhari-hari, menunggu desakannya dipenuhi. 
 
Mereka mendirikan tenda untuk berteduh serta menggelar alas untuk duduk. Di tenda itu, mereka memasang tulisan Kemah Tenda Keprihatinan Msnagih Janji Bupati Karanganyar. Aksi tersebut berlangsung sejak unjuk rasa digelar pada Jumat (23/9/2022).
 
Warga mendesak bupati menepati janjinya membongkar kafe Black Arion. Sebab, janji bupati itu tak kunjung terealisasi usai audiensi pada dua pekan lalu. Kafe yang menyewa tanah kas Desa Gedongan itu dianggap menyalahi prosedur penggunaan aset milik desa serta dituding sumber maksiat. 
 
Joko Wahono salah satu warga yang ikut bertahan di tenda mengatakan mereka akan tetap mendirikan tenda, sampai Bupati Karanganyar Juliyatmono memenuhi janjinya untuk membongkar Cafe Black Arion.
Menurut Joko sejak demo yang dilakukan akhir pekan lalu, bupati tidak menemui warga. Selain mendirikan tenda, juga menaruh peti mayat tanda keadilan sudah mati.
 
“Kami tetap bertahan dan di tenda keprihatinan ini. Kami akan melakukan aksi demonstrasi yang lebih besar lagi pada hari Kamis (29/9) mendatang,” kata Joko Senin (26/9/2022).
 
Warga menilai Pemkab Karanganyar tidak berdaya menghadapi pengelola Black Arion. Padahal cafe yang dibangun di atas lahan kas desa ini sama sekali belum memiliki izin. 
 
Sementara itu Bupati Karanganyar Juliyatmono mengaku sudah memberi bantuan alat berat dan personel keamanan yang diperlukan untuk membongkar kafe. Namun Kades Gedongan Tri Wiyono justru menghilang dan tidak melaksanakan eksekusi penutupan maupun pembongkaran. 
 
"Suratnya berisi minta bantuan Pemkab untuk menutup kafe. Kita bantu aparat di lokasi untuk mengamankan eksekusi. Eh pak lurahe malah ngilang. Enggak melaksanakan itu," katanya. 
 
Sedangkan Kades Gedongan Tri Wiyono mengaku tak mau dirinya terjebak di tengah-tengah. Jika dirinya mengeksekusi pembongkaran, bisa digugat pemilik kafe. Belum lagi gesekan antara warga dengan pihak kafe bakal lebih meruncing. 
 
"Sebenarnya tuntutan hanya penutupan. Tapi forum warga menginginkan juga dibongkar. Ini yang jadi lebih runyam," katanya. (Lim)

Kredit

Bagikan