Pendampingan Budaya Sekolah Bermuatan Antikorupsi di SMA Muhammadiyah 1 Bantul

user
Ivan Aditya 29 Agustus 2022, 17:42 WIB
untitled

Krjogja.com - BANTUL - Budaya sekolah merupakan aspek penting dalam pembentukan sikap dan karakter warga sekolah, khususnya peserta didik. Sikap antikorupsi sebagai modal pokok bagi terciptanya masyarakat yang bebas dari korupsi. Karena itu budaya sekolah yang bernuansa dan bermuatan antikorupsi sangat penting untuk dikembangkan. Mengacu pada pemikiran tersebut, maka TIM Pengabdian Masyarakat UAD pada Senin, 29 Agustus 2022, bertempat di aula SMA Muhamadiyah 1 Bantul, melakukan Sosialisasi dan pendampingan integrasi Pendidikan Antikorupsi dalam budaya Sekolah di SMA Muhammadiyah 1 Bantul Yogyakarta.

Tim ini terdiri dari Dr. Sumaryati, M.Hum (Ketua, Penyuluh Antikorupsi Tingkat Muda, anggota divisi pendidikan PAK SIJI Yogyakarta), Trisna Sukmayadi, M.Pd (anggota,Penyuluh Antikorupsi Tingkat Muda, anggota divisi pendidikan PAK SIJI Yogyakarta) dan Dr. Supriyadi, M.Si (anggota). Pada kesempatan ini TIM PKM UAD melibatkan tiga mahasiswa PPKn UAD yang kebentulan juga sebagai pengurus dan anggota Komunitas Mahasiswa, Gerakan Mahasiswa Antikorupsi (GEMARI).

Tiga mhaasiswa tersebut Ummi Uswatun Khasanah (Ketua Gemari PPKn UAD), Iqbal Hasyim dan Rahmatika Maulida (anggota Gemari PPKn UAD). Peserta kegiatan semua pimpinan, dewan guru dengan tambahan tugas sebagai penanggungjawab berbagai program dan kegiatan sekolah (20 orang).

SMA Muhammadiyah 1 Bantul sebagai salah satu sekolah senior dengan banyak pengalaman dalam mengembangkan budaya sekolah. Sekolah ini juga memiliki program kelas boarding school, yang semakin mempermudan dan memperkuat pengelolaan budaya sekolah. Sekolah ini juga sudah pernah merintis kantin kejujuran, meskipun belum mampu berkembang secara tersu menerus.

Inilah beberapa alasan mengapa SMA Muhamamdiyah 1 Bantul oleh TIM PKM UAD 2021/2022 dipilih sebagai mitra prgram ini. Demikian ditutukan oleh Dr. Sumaryati ,M.Hum (Ketua PKM). Lebih lanjut Sumaryati menyatakan dengan pelaksanaan program sosialisasi dan pendampingan integrasi PAK dalam budaya sekolah ini, semua keluarga besar SMA Muhamamdiyah 1 Bantul memiliki komitmen yang sama mewujudkan budaya sekolah yang bernuansa antikorupsi, semakin memperluas mengimplementasikan konsep amar maruf nahi munkar di sekolah kepada semua warga sekolah, khsuusnya peserta didik.

Dalam kegiatan ini hadir Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Bantul, Drs H.Muhammad Asrowi, Pimpnan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bantul, Mugiyanto, M.Si dan Drs. Sunarta. Kepala sekolah SMA Muhammadiyah 1 Bantul, mengucapkan terimakasih kepada Tim PKM UAD dan menyambut baik serta siap mendukung mewujudkan budaya sekolah yang bermuatan pendidikan antikorupsi di sekolah ini.

Sementara itu Mugiyanto, M.Si, menyampaikan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, “Laknat Allah kepada pemberi suap dan penerima suap”. Karena itulah, menurut beliau sudah jelas dalam hadist ini bahwa korupsi jelas dilarang. Untuk itu maka pembiasaan antikorupsi perlu dibangun salah satunya melalui budaya sekolah. “Oleh karena itu, upaya pendidikan antikorupsi ini sangat penting agar anak – anak mampu menolak untuk melakukan tindakan korupsi. Sehingga anak-anak bisa menjadi alumni yang memiliki nilai akhlak moral yang baik,” imbuh Mugiyanto. Pada saat tersebut Mugiyanto, M.Pd perwakilan dari PDM Kabupaten Bantul sekaligus membuka kegiatan ini.

Hal ini senada dengan yang disampaikan Dr. Supriyadi, M.Si, bahwa pengembangan Pendidikan Anti Korupsi (PAK) di lingkungan sekolah terutama di SMA Muhammadiyah 1 Bantul ini sangat penting. Dimana sekolah ini merupakan sekolah berbasis kemuhammadiyahan yang berlandaskan agama Islam. Sementara landasan utama agama Islam adalah Al-Quran.

Salah satu definisi korupsi dengan dasar Al-Quran, bahwa korupsi merupakan segala tindakan yang merugikan orang lain dengan cara memakan harta yang haram, menyuap, mencuri, melanggar janji, menipu, ataupun mengkhianati. Sehingga tindakan tersebut dapat merusak kepentingan umum dan merupakan suatu bentuk kejahatan. Lebih lanjut ditegaskan, saat SMA Muhiba sebagai sekolah Muhammadiyah mengembangkan antikorupsi dalam budaya sekolah, berarti telah mengamalkan ajaran agama yang tertuang dalam Al-Quran.

Trisna Sukmayadi, S.Pd.,M.Pd selaku Tim PKM UAD menjelaskan korupsi sebagai kejahatan luar biasa. “Dikatakan kejahatan luar biasa karena dampak korupsi dirasakan oleh seluruh warga negara, meskipun waraga negara ini tidak mengetahui korupsi yang dilakukan. Misalnya pada kasus korupsi minyak goreng dimana berdampak pada keadaan ekonomi masyarakat, khussunya para penjual gorengan. Korupsi juga berdampak bagi terjadinya penurunan produktivitas, lesunya pertumbuhan ekonomi dan investasi, rendahnya kualitas barang dan jasa untuk publik, menurunnya pendapatan dari sektor pajak, serta meningkatnya hutang negara,” jelasnya.

Lebih lanjut dinyatakan Trisna Sukmayadi, S.Pd.,M.Pd selaku Tim PKM UAD, penyebab utama korupsi adalah perilaku koruptif yang begitu luas menyebar serta dianggap wajar dan biasa dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya korupsi waktu, korupsi ide misalnya plagiat, korupsi kerja, dan korupsi kesempatan. Selain itu, muara dari persoalan korupsi yang paling utama adalah hilangnya nilai-nilai antikorupsi seperti jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggungjawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil, dari dalam diri setiap individu. Oleh karena itu, diperlukan Pendidikan Antikorupsi (PAK) yang merupakan sebuah gerakan budaya dalam menumbuhkan nilai antikorupsi sejak dini.

Lebih lanjut Dr. Sumaryati, M.Hum menyatakan pencegahan korupsi salah satunya dengan melakukan perbaikan sistem. Dalam hal ini salah satunya adalah perbaikan sistem budaya. Sistem budaya yang berpengaruh kuat dalam membentuk pola pikir, pola hati, dan pola tindak manusia harus betul-betul dibangun dan dikuatkan dengan nilai-nilai antikorupsi.

Pencegahan perilaku koruptif di sekolah, dengan demikian salah satunya dilakukan dengan membangun dan memperkuat budaya sekolah bermuatan antikorupsi. Lebih lanjut dinyatakan “Dalam membangun budaya sekolah bermuatan pendidikan antikorupsi dibutuhkan kerjasama dan komitmen semua pihak,terlebih pihak internal sekolah (pimpinan, dewan guru, semua karyawan, semua unsur organisasi sekolah). Konsistensi antara perbuatan dengan pola pikir dan pola hati juga sangat penting. Sering terjadi inkonsistensi antara perbuatan dengan akal (ilmu, pengetahuan) dan hati (hati nurani). Terkadang mengambil keputusan tidak sesuai dengan ilmu dan hati kita. Ini yang dinamakan miskinnya integritas. Disinilah pentingnya pendidikan antikorupsi bagi peserta didik khusunya. Agar peserta didik selalu berlatih mengambil pilihan dan keputusan yang sesuai dan berdasarkan pada akal (ilmu) dan hati (hati nurani)," katanya.

Lebih lanjut Dr. Sumaryati menyatakan integrasi pendidikan antikorupsi dalam budaya sekolah dilakukan dengan pertama menganalisis visi,misi, tujuan, peraturan, program, dan kegiatan sekolah. Kedua, menambahkan materi pendidikan antikorupsi yang relevan dengan misi, tujuan, peraturan sekolah, program dan berbagai kegiatan sekolah. Ketiga, mengimplementasikan materi pendidikan antikorupsi sesuai dengan tanggungjawab penugasan masing-masing. Keempat, evaluasi pelaksanaan integrasi pendidikan antikorupsi dalam budaya sekolah secara berkelanjutan. Ditambahkan penjelasan, bahwa pendidikan antikorupsi membutuhkan waktu yang berkelanjutan, tidak sekali jadi. (*)

Kredit

Bagikan