Agradaya Berdaya dengan Melimpahnya Rempah-rempah Lokal

user
Agusigit 27 September 2022, 22:15 WIB
untitled

Krjogja.com - SLEMAN - Keputusan untuk meninggalkan Ibu Kota dan memilih tinggal di desa, ternyata sama sekali bukan keputusan yang salah bagi Asri Saraswati, Founder Agradaya. Dia seperti menemukan seonggok permata setelah memutuskan pindah dari Jakarta ke pinggiran desa pada 2014 lalu. Saat itu, dia memutuskan untuk meninggalkan Ibu Kota dan menetap di Planden RT3 /RW14, Sendang Rejo, Kapanewon Minggir, Sleman.

Keputusannya untuk menjauh dari hiruk pikuk kehidupan Jakarta bukan tanpa alasan. Salah satunya, untuk menyatu dengan kehidupan masyarakat desa dan ikut memberdayakan petani. Asri bersama suaminya pun melakukan riset ke masyarakat sekitar, potensi apa yang bisa dikembangkan.

Hasilnya, mereka menemukan potensi rempah atau tanaman biofarmaka yang melimpah. Dari situlah mereka lantas mendirikan Agradaya.

"Ekosistem ini namanya Agradaya, kami manufaktur minuman herbal. Kami awalnya melakukan observasi di sini. Banyak tanaman obat meskipun belum menjadi tren, itu sebelum pandemi Covid-19," katanya saat ditemui di kediamannya.

Menurutnya, sumber daya alam di pedesaan melimpah, tetapi tidak terolah dengan baik. Petani hanya menanam dan menyetor ke tengkulak dan pasar. Padahal permintaan bahan baku tanaman obat dari luar negeri seperti Belgia sangat besar.

Dia pun berpikir bagaimana rempah dan tanaman obat di desa tersebut bisa di produksi tidak dalam bentuk mentah dan dalam skala desa, bukan petani per petani. Akhirnya mereka membuat alat pengering untuk kelompok tani sehingga rempah dan tanaman obat yang dihasilkan pun sudah dalam bentuk kering.

“Kalau keluar kering itu sama dengan produk semifinis untuk bahan ekstraksi, suplemen minuman kesehatan sehingga benefitnya bisa lebih besar. Nilai ekonominya bisa lebih tinggi," katanya.

Mereka pun lantas mengkreasikan dan melihat potensi lokal seperti tanaman obat, rempah untuk diekstraksi menjadi suplemen.

Saat pandemi Covid-19, permintaan rempah-rempah untuk suplemen kesehatan meningkat. Asri pun menggenjot produksi. Selama pandemi, kata dia, orang bisa lebih menghargai bahan rempah-rempah lokal.

Selama ini, tercatat ada sekitar 120 petani di kawasan perbukitan Menoreh di Kulonprogo yang menjadi mitra Agradaya.

Mereka memasok bahan baku seperti kunyit, kemukus, jahe, temulawak. "Potensinya memang besar di sana, bahannya berlimpah. Kami menjual produk langsung ke end user, kebanyakan melalui sistem online. Ada juga yang datang langsung ke sini," katanya.

Sementara untuk pengiriman barang, Asri mengandalkan JNE untuk pengiriman ke seluruh Indonesia.

Paling banyak permintaan rempah herbal seperti temulawak bubuk, jahe bubuk, dan sebagainya.

Pengiriman dilakukan paling rutin ke Jakarta, Bali, Surabaya bahkan sampai Ambon. "Kami menggunakan jasa ekspedisi JNE karena selain titik layanannya dekat dengan lokasi Agradaya JNE juga terpercaya. Saat pandemi Covid-19 pengiriman JNE tetap lancar tanpa kendala.

Jahe merah, lanjut Asri paling banyak yang diminta konsumen. Orang membutuhkan menjaga imunitas sejak pandemi. Penjualannya dilakukan per 50 gram seharga Rp50.000. "Konsumen sudah mengetahui proses produk kami sehingga dengan harga segitu juga tidak masalah. Seminggu bisa habis satu kwintal," katanya

Bersama beberapa seniman, Asri lantas mendirikan Murakabi yang menjadi tempat bagi petani untuk menjual jajanan lokal yang berbahan baku lokal. Murakabi hasil kolaborasi dengan beberapa pengusaha bergerak dengan Agradaya untuk mengangkat produksi lokal.

Nah jajanan di Murakabi ini, lanjut Asri, dibuat dari bahan baku lokal. Mulai dari keripik ubi, keripik singkong, tepung ubi, minyak kelapa dan sebagainya. Mereka juga membuat chilli oil, cabai tabur dan abon cabai untuk membantu petani cabai saat harga cabai anjlok.

Kredit

Bagikan