Dubes Norwegia: Perang di Ukraina Mendorong Pengembangan Energi Terbarukan Dunia

user
Agusigit 28 September 2022, 08:39 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Krisis energi di Eropa diperparah dengan invasi Rusia ke Ukraina. Krisis ini bisa berdampak serius terhadap komitmen masyarakat global dalam menanggulangi isu-isu perubahan iklim global. Dislokasi pasar energi akibat perang juga dirasakan di belahan dunia lain, termasuk di Indonesia.

Demikian disampaikan Duta Besar Norwegia untuk Indonesia, HE Rut Kruger Giverin dalam kuliah umum bertajuk 'Europe's Energy Crisis, Global Climate Commitment Challenges: Views from Norway and Indonesia' di Hall Auditorium Mandiri, Fisipol UGM Yogyakarta, Selasa (27/9/2022).

Kuliah umum diselenggarakan oleh Departemen Politik dan Pemerintahan (DPP) UGM bersama dengan proyek kerja sama UGM-Norwegian University of Science and Technology (NTNU) di dalam jejaring Citizen Engagement, Transparency and Transnational Natural Resource Governance (CitRes) serta organisasi mahasiswa Scandinavia Community UGM.

Acara tersebut menghadirkan tiga pembahas dari beragam latar belakang, yaitu Angga Kurnia Imban (Project Manager, PT Tinfos Hydropower Solutions), Putra Adhiguna (ahli ekonomi dan kebijakan energi dari Institute for Energy Economics and Financial Analysis/IEEFA) dan Raras Cahya Fitri (Dosen Departemen Hubungan Internasional/DIHI UGM).

Menurut Rut Kruger, perang di Ukraina telah menyebabkan harga energi Eropa dan global melonjak, menyebabkan efek negatif jangka pendek pada konsumen dan ekonomi secara lebih luas. Tetapi satu hasil positif adalah bahwa kenaikan harga energi ini semakin mendorong dan mempercepat pengembangan dan penyebaran sejumlah besar energi terbarukan yang murah secara global.

"Sudah ada banyak bukti dari pemerintah dan perusahaan yang mengembangkan kerangka kebijakan dan memajukan investasi dalam energi terbarukan," ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan Rut Kruger, dalam upaya mengurangi emisi, secara bilateral Norwegia adalah pendukung kuat upaya Indonesia untuk melestarikan hutannya. Hutan hujan terbesar ketiga di dunia ada di Indonesia, dan Indonesia memiliki beberapa wilayah lahan gambut dan bakau terbesar di dunia.

"Hutan, lahan gambut, dan bakau menyimpan sejumlah besar karbon. Hal ini sangat penting tidak hanya bagi Indonesia tetapi juga bagi iklim global dan keanekaragaman hayati," ujarnya.

Oleh karena itu, kata Rut Kruger, penting bagi Indonesia untuk mengurangi deforestasi secara dramatis. Ini bukan hanya pencapaian penting untuk target iklim Indonesia tetapi juga sangat penting bagi kemampuan kolektif dunia untuk mencapai tujuan global dari kesepakatan Paris.

"Norwegia telah lama menjadi mitra Indonesia dalam mendukung pekerjaannya di bidang hutan. Dalam dekade sebelumnya, kami telah menggunakan sekitar 100 juta dolar untuk program yang bertujuan mendukung ambisi pemerintah Indonesia sendiri untuk melindungi dan memulihkan hutan," pungkasnya. (Dev)

Kredit

Bagikan