Dibuang Sayang, Mahasiswa Polines Ciptakan Tote Bag Berbahan Sak Semen dan Goni

user
Agusigit 29 September 2022, 01:38 WIB
untitled

Krjogja.com - SEMARANG-Plastik merupakan permasalahan krusial yang tak kunjung berkesudahan. Bagaimana tidak? Setiap hari hampir rata-rata dari kita pasti menggunakan plastik. Bahkan, industri fashion turut menyumbang plastik melalui serat sintetis yang dihasilkan mengubahnya menjadi partikel kecil yang disebut mikroplastik. Limbah berukuran mikro tersebut terlepas bebas di lingkungan sekitar dan tak menutup kemungkinan apabila kondisi ini berlangsung terus-menerus akan menambah kerusakan ekosistem yang akan berdampak ke manusia.

Dewasa ini, pemerintah mulai membatasi penggunaan plastik dan para aktivis alam yang terus menggaungkan pola hidup sustainable lifestyle melalui 4R (Reduce, Reuse, Recycle, Replace). Hal inilah yang kemudian mendorong mahasiswa Politeknik Negeri Semarang (Polines) yang terbentuk dalam Tim Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang diketuai Brigitta Pungki Yuliashari (D4-Administrasi Bisnis Terapan) dengan anggota Balqis Ayu Wijayanti (D3-Akuntansi), Sahra Mawarseta (D4-Komputerisasi Akuntansi), Intan Anugrahsari (D3-Akuntansi), dan Shintya Dwi Martanti (D3-Teknik Elektronika) dengan dosen pembimbing Misbakhul Arrezqi SE MM untuk menciptakan inovasi tote bag painting kit berbahan sak semen dan goni.

Tote bag yang dinamai Bastara tersebut merupakan akronim dari Batik Sak Asta Remaja (Batik seukuran tangan remaja). Produk ini mengilustrasikan remaja yang bebas berkarya tetapi tidak melupakan warisan leluhur sehingga bermotif batik kontemporer.

“Seringkali, konsumen bingung untuk mendapatkan ide motif yang akan dituangkan dalam tote bag kain blacu. Maka dari itu, Bastara hadir dalam bentuk Painting Kit. Keunikannya ada pada bahan baku (sak semen bekas, goni, dan blacu) serta konsumen dapat melukis sendiri tote bag miliknya sesuai katalog yang tersedia di bio Instagram @bastara_totebag,” kata Brigitta Pungki selaku ketua tim PKM-K ini kepada pers Selasa (27/9/2022).

Lebih lanjut, mahasiswi ini menjelaskan motifnya merupakan interpretasi batik dari berbagai daerah yang disatukan dengan sifat satwa Indonesia. Misalnya, batik mega mendung yang memiliki filosofi kesabaran, kesuburan, dan pemberi kehidupan sangat sesuai untuk dikombinasikan dengan satwa burung hantu yang melambangkan kesederhanaan dan penuh kerahasiaan. Dari segi pemilihan bahan, Bastara menggunakan sak semen dikarenakan ketersediaan limbah tersebut sangat banyak dan jarang didaur ulang.

“Untuk proses penjahitannya, kami menggunakan tenaga jasa jahit di Pudakpayung karena kebetulan di daerah tersebut merupakan kampung penghasil kerajinan tas sehingga proyek ini bisa memberdayakan usaha mereka,” jelas Balqis.

Tim mahasiswa Polines ini berharap produk ini diminati anak muda agar dapat melestarikan UMKM, batik, dan menciptakan lingkungan hidup yang sehat dengan mengurangi pemakaian plastik serta mendaur ulang sak semen bekas. (Sgi)

Kredit

Bagikan