Hakim Agung Ditangkap KPK, Masterbend Gelar Doa Bersama

user
Ivan Aditya 29 September 2022, 11:32 WIB
untitled

Krjogja.com - PURWOREJO - Warga yang tergabung dalam Masyarakat Terdampak Bendungan Bener (Masterbend) menggelar tasyakuran di kawasan pembangunan Bendungan Bener, Desa Nglaris, Kecamatan Bener, Purworejo, Rabu (28/09/2022). Mereka menggelar doa dan makan bersama setelah mengetahui kabar penangkapan Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) Sudrajat Dimyati ditangkap KPK.

Ratusan warga duduk di lahan yang akan menjadi kawasan genangan Bendungan Bener, dengan mengenakan pakaian bersih dan membawa aneka makanan. "Kami menggelar doa bersama, dengan harapan supaya pejabat yang memiliki wewenang sadar, bahwa ada kepentingan masyarakat yang sampai sekarang masih terabaikan," tutur Ketua Masterbend Eko Siswoyo usai doa bersama.

Menurutnya, masih ada hak dari pemilik 176 bidang tanah yang belum dipenuhi pemerintah. Lahan mereka menjadi lokasi pembangunan bendungan dan seharusnya menerima ganti keuntungan Namun, warga harus melewati proses berliku ketika memperjuangkan uang ganti keuntungan itu. "Kami memperjuangkan nilai ganti rugi yang wajar, mulai dari gugatan di PN Purworejo yang dimenangkan warga, dan putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi (PT) Jawa Tengah," katanya.

Pihak pemerintah kemudian mengajukan kasasi di MA dan majelis hakim agung memutuskan memenangkan pemohon dan warga terdampak bendungan kalah. Lalu, katanya, muncul berita Hakim Agung MA Sudrajat Dimyati salah satu yang menangani perkara kasasi itu ditangkap KPK. "Hal itu menjadi perhatian kami, sehingga harapannya pemerintah sadar, di Bener ini ada hak-hak warga yang harus dipenuhi," tegasnya.

Terkait perkembangan perkara gugatan, katanya, pemilik 176 bidang tanah mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali (PK). "Sudah didaftarkan dan sekarang sedang tahap pemeriksaan berkas di PN Purworejo. Tapi kami harap ada solusi, hak-hak warga bisa dipenuhi segera dan tidak harus menunggu putusan PK," ucapnya.

Warga terdampak bendungan Baniyah mengatakan, kegiatan tasyakuran merupakan inisiatif dari warga yang merasa prihatin dengan apa yang mereka alami. Warga, katanya, merasa dizalimi pemerintah dengan belum dibayarnya uang ganti rugi.

Warga, katanya, sudah merelakan tanah mereka untuk kepentingan negara. "Tapi awalnya dulu, mau diberi ganti rugi yang tidak manusiawi, sehingga kami melakukan upaya hukum, di mana menang di PN dan PT, tapi kalah di MA," ungkapnya.

Warga lain, Sunarti menambahkan, tertangkapnya hakim agung karena dugaan menerima suap itu merupakan kuasa Tuhan. Warga pun menyiapkan sajian lengkap sesuai adat Jawa berupa nasi gurih, aneka masakan, dan ayam ingkung. "Kami sudah berjuang, sudah ikhlas merelakan tanah untuk pembangunan bendungan, tapi diperlakukan seperti ini," tandasnya. (Jas)

Kredit

Bagikan