Jedink Alexander Pentas Monolog Malam Ini di TBY

user
Agusigit 30 September 2022, 09:15 WIB
untitled

Krjogja.com - PENTAS Teater Monolog cerita 'Terlambat Jeda' naskah karya Mahmoud Elqadrie, yang dimainkan aktor Jedink Alexander, disutradarai oleh Bramanti F Nasution, akan digelar di Gedung Societet Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Jumat (30/9) malam mulai pukul 19.30. 

Pementasan monolog berdurasi sekitar 1 jam diselenggarakan Jedink Production dan Guyub Rukun Keluarga (GRK) Asdrafi dan didukung Visiting Jogja TV ini, dikemas memadukan kemampuan permainan aktor dengan tata artistik audiovisual yang menyesuaikan tuntutan cerita 'Terlambat Jeda'.

Sebelum pentas monolog berlangsung bakal dihibur musik Karawitan Mandala Putra pelajar SMP Negeri 1 Nglipar Gunungkidulm Kemudia tim artistik dan produksi untuk audivisual digarap oleh Joni Asman, penata lampu Marco Dinata, penata rias-kostum Rina Nikandaru, properti Gregorius Usanta, penata suara Dion Immanuel N, pimpinan produksi Lidwina Riestanti dan produser Edo Nurcahyo.

Bramanti F Nasution mengatakan, pentas Monolog lakon 'Terlambat Jeda' yang dimainkan aktor Jedink Alexander ini, pernah dipentaskan dalam gelaran Parade Monolog, di pendapa Asdrafi, Sompilan 12, Ngasem Yogyakarta. "Hanya saja, pementasan monolog Terlambat Jeda yang bakal digelar di Gedung Societet TBY, ada perubahan baik audivisual maupun pengemasan yang menyesuaikan panggung dan tata lampu," papar Bramanti F Nasution, saat latihan di TBY, Kamis (29/9) sore.

Mahmoud Elqadrie menambahkan, lakon 'Terlambat Jeda' intinya menggambarkan cerita, bahwa tidak semua orang ingin kembali ke alam, kewarasan alam kehidupan normal yang normatif dan sehat secara kejiwaan. Namun ketidakwarasan, juga sebuah pilihan ketika di balik bangsal RSJ, justru menjumpai apa arti kebebasan dari ikatan sosial dan norma-norma yang membelenggunya.

Kehidupan sosial yang cenderung munafik dan penuh intrik dan pura-pura menjadi belenggu yang membosankan dan mengungkung kemerdekaan pikiran dan tindakan. Menyerahkan pada roda peradaban butuh aturan dan permainan yang penuh tipu daya. Namun menjadi gila (pasien sakit jiwa) menjadi cara membebaskan semua tirani sosial yang membelenggunya. "Gila adalah jalan menuju ke entahan dari ke entahan yang lain. Menempuh ilusi ke ilusi yang lain. Menapak bayang- bayang non realitas menjadi kenikmatan tersendiri karena akal pikiran bisa merebah dengan apa adanya mengikuti arus waktu," kata Mahmoud.

 

Kredit

Bagikan