Unika dan Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial Gandeng Penyerap Komoditas Petani

user
Agusigit 01 Oktober 2022, 18:35 WIB
untitled

Krjogja.com - SEMARANG- Tim penerima hibah Matching Fund Kedaireka Ditjen Dikti Ristek 2022 dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang selama tiga hari (23-25/9/2022) melakukan penelitian dan diskusi hasil penelitian di Yogyakarta. Penelitian mengambil judul “Pengembangan Start-Up Perhutanan Sosial untuk Peningkatan Kapasistas dan Kesejahteraan Petani Perhutanan Sosial”.

Kegiatan pada tiga hari tersebut juga berfokus pada diskusi untuk pembentukan unit bisnis dan peningkatan kapasitas koperasi perhutanan sosial. Penelitian diketuai B Linggar Yekti Nugraheni SE MCom PhD CA (Akuntansi) dengan anggota Dr Agnes Advensia Chrismastuti SE MAk CPA, R Setiawan Aji Nugroho ST MCompIT PhD, Dr Robertus Probo Yulianto Nugrahedi STP MSc, Shresta Purnamasari SE MSc, Christya Putranti SH MH, Apelina Theresia SE MAk, dan Stefani F Dewi SE MSc. Anggota peneliti memiliki beragam disiplin ilmu yaitu manajemen, perpajakan, pengolahan pangan, ilmu komputer dan ilmu hukum, serta melibatkan mahasiswa dari kelima program studi tersebut.

Ketua tim peneliti B Linggar Yekti Nugraheni SE MCom PhD CA kepada pers di kampus setempat Jumat (30/9/2022) menyampaikan kegiatan diskusi penelitian dihadiri oleh dua perguruan tinggi, dua Kementerian, beberapa offtakers (penyerap komoditas petani), pegiat pertanian dan perhutanan, penyedia layanan pendanaan (perbankan) dan mitra penelitian yaitu Gerakan Masyarakat Perhutanan Sosial Indonseia (GEMA PS). GEMA PS merupakan anggota tim percepatan penyelesaian konflik agraria dan penguatan kebijakan resormasi agraria yang dibentuk oleh kantor staf presiden.

Perguruan tinggi yang hadir adalah Universitas Katolik Soegijapranata dan Universitas Gadjah Mada sedangkan dari kementerian dihadiri oleh perwakilan Kementerian Pertanian serta Kementerian Koperasi dan UKM. Kementerian pertanian mengirim tiga direktorat yaitu Direktorat Jenderal Perlindungan Tanaman Pangan, Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian dan Direktorat Jenderal Buah dan Florikultura. Sedangkan dari Kementerian Koperasi dan UKM dihadiri oleh Pengawas Koperasi, Deputi Bidang Perkoperasian.

Pada kesempatan tersebut, beberapa offtakers yang hadir dan akan membeli komoditas dari perhutanan sosial antara lain PT Fairventures Social Forestry, PT Indika Multi Properti, Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Obor Tani, Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Jakarta dan pendiri Bank Petani, Masril Koto. Dari penyedia layanan pendanaan, turut hadir juga jajaran manajemen Bank BNI kantor wilayah Jawa Tengah.

Acara dibuka dengan sambutan dari Dewan Pembina Gerakan Masyarakat Perhutanan Prof Dr Ir San Afri Awang MSc, guru besar Fakultas Kehutanan UGM yang sekaligus menjadi partner dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Unika Soegijapranata Semarang.

Profesor Awang mengajak seluruh petani perhutanan sosial untuk menghidupkan roh koperasi dalam mengembangkan usaha dan unit bisnis perhutanan sosial. Acara dilanjutkan dengan paparan dari masing-masing Direktorat Kementerian Pertanian dan Deputi Bidang Perkoperasian dan Kementerian Koperasi dan UKM dan paparan dari tim peneliti mengenai pentingnya tata kelola operasi dan keuangan, penguatan database dan dukungan teknologi dalam pengelolaan perhutanan sosial.

Ketua peneliti B Linggar Yekti Nugraheni SE MCom PhD CA juga menjelaskan bahwa diskusi pembentukan unit bisnis tersebut menjadi langkah penting agar petani perhutanan sosial dapat berkomunikasi dengan offtakers secara langsung sehingga dapat memutus rantai distribusi komoditas petani perhutanan sosial yang selama ini panjang dan rumit.

Peneliti bersama dengan pihak yang hadir juga mengembangkan model unit bisnis yang mengedepankan peran koperasi dalam kegiatan usaha yang dilakukan oleh GEMA Perhutanan Sosial.

“Para offtakers atau para penyerap komoditas petani memaparkan kebutuhan mereka, kemudian petani merespon kebutuhan tersebut dengan menawarkan komoditas yang bisa dijual kepada pihak offtakers. Diskusi ditutup dengan kesepakatan bersama antar semua pihak yang hadir untuk mendukung usaha dan unit bisnis yang akan dikembangkan oleh GEMA Perhutanan Sosial” ujarnya. (Sgi)

Kredit

Bagikan