Berharap dari Jogja, Aktivis 98 ‘PIM’ Diskusi Cegah Polarisasi 2024

user
Agusigit 01 Oktober 2022, 19:37 WIB
untitled

YOGYA - Sejumlah aktivis 98 yang tergabung dalam Perkumpulan Indonesia Muda (PIM) menggelar pertemuan dalam diskusi bertajuk Polarisasi Politik dan Kemajuan Bangsa di Cangkir Bumi, Umbulharjo, Sabtu (1/10/2022). Pertemuan tersebut di antaranya mendiskusikan terkait pencegahan polarisasi menuju pemilihan presiden 2024. 
 
Ketua PIM DIY, Nanang Hartanto mengungkap PIM dibentuk secara formal oleh para aktivitas 98 dari berbagai daerah di Indonesia sejak 2018. Pertemuan di Jogja digelar sekaligus diskusi kebangsaan menghadirkan sejumlah pakar politik hingga budayawan, salah satu di antara sekian aktivis 98 yang hadir dalam pertemuan itu adalah John Tobing yang juga pencipta lagu Darah Juang. 
 
Dalam prosesnya, para aktivis yang tergabung dalam perkumpulan ini diharapkan ke depan memberikan kontribusi kepada bangsa dan negara. Sampai saat ini PIM sudah ada 17 provinsi dan rencananya akan terus dikembangkan ke seluruh provinsi. Ke depan PIM akan berpartisipasi dalam Pemilu 2024
 
“Kami bagian aktivis 98 ingin mendorong agar negara ini tidak selalu terjebak dalam polarisasi yang dapat menghambat kemajuan bangsa. Jika kontestasi selesai, maka sudah seharusnya bersatu kembali. Lewat pertemuan ini kami berharap ke depan memberikan kontribusi kepada bangsa,” ungkapnya. 
 
Ketua Umum PIM, Yodhisman Sorata yang juga hadir dalam diskusi meambahkan polarisasi politik di Indonesia mulai terasa sejak 2014 dan terus bertambah hingga 2019 bahkan saat ini. Oleh karena itu Yodhisman mengingatkan seluruh elemen harus lebih santun dan berbudaya dalam berpolitik, terutama menyambut pesta demokrasi 2024 mendatang. 
 
“Apalagi ketika dua periode pak Jokowi maju dengan Pak Prabowo waktu itu sampai saat ini sisa sisa polarisasi masih ada. Kami ingin ingatkan lagi bahwa polarisasi itu sebaiknya tidak ada di pilpres. Kontestasi itu selesai di Pemilu, setelah Pemilu ya kita pikirkan negara ini bersama-sama," ucapnya. 
 
Terkait diskusi di Yogyakarta, Yodhisman menyebut adanya alasan khusus bahwa di sinu berkumpul masyarakat dari seluruh Indonesia. Harapannya, dari Yogyakarta akan muncul sesuatu hal yang bisa membawa dampak positif bagi seluruh daerah. 
 
“Kami menggelar pertemuan ini di Jogja karena kota ini menjadi miniatur Indonesia menjadi simbol bersatunya masyarakat. sejak dulu Jogja selalu menjadi tempat berkumpulnya tokoh dan aktivis sejak era kemerdekaan. Harapannya dari Jogja bisa menyebar ke daerah lain,” pungkas dia. (Fxh)

Kredit

Bagikan