Dekranasda Ingin Populerkan Batik dan Kopi Wonogiren

user
Tomi Sujatmiko 02 Oktober 2022, 18:13 WIB
untitled

Krjogja.com - WONOGIRI - Hari Kopi Internasional 1 Oktober dan Hari Batik Nasional 2 Oktober diperingati bersamaan di Alun-alun Giri Krida Bakti Wonogiri, Sabtu (1/10/2022). Pemerintah Kabupaten Wonogiri menggandeng Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) setempat menggelar Festival Kopi dan Batik guna mengembangkan dua potensi daerah itu.

Apresiasi positif masyarakat nampak saat berlangsung dialog interaktif tentang batik dan kopi di sela-sela festival. Acara ini menghadirkan nara sumber Bupati Wonogiri Joko Sutopo, Kadiskop UMKM dan Perindag Wahyu Widayati SSos MPd serta Kadispertan Wonogiri Baroto MSi.

Menurut bupati yang akrab disapa Mas Jekek, Wonogiri harus.memiliki ciri khas dalam mempromosikan kopi. "Jangan hanya kenal kopi Gayo, kopi Toraja atau kopi Sumatera di luar sana, tapi bagaimana agar kopi Wonogiri mampu menjadi tuan di negeri sendiri," ujar Jekek.

Varian kopi Wonogiri relatif beragam. Ada 16 kecamatan penghasil kopi berkualitas di Kota Sukses dengan total areal sekitar 301 hektare.

Ketua Dekranasda Wonogiri drh Verawati Joko Sutopo MSc yang ditemui wartawan usai menghadiri festival bersama dinas terkait Pemkab khususnya Diskop UMKM dan Perindag maupun Dispertan ingin kopi dan batik 'Wonogiren' lebih dikenal lagi kalangan konsumen menengah ke atas. Di Wonogiri, ujar isteri Bupati Wonogiri itu, ada sekitar 1.002 pengrajin batik.

"Sedangkan yang mengikuti festival batik ini ada sekitar 17 perusahaan," tutur dia. Menurutnya festival batik dan kopi yang diterima masyarakat ini bukti bahwa kebangkitan sektor UMKM di daerah Wonogiri mulai menggeliat setelah dua tahun pandemi Covid 19.

Perajin batik, Suparno, maupun Mulyono, petani kopi warga Desa Nguneng Puhpelem mengaku gembira dengan festival yang diprakarsai Dekranasda Wonogiri dengan pemkab ini. Mereka berharap event seperti ini bisa digelar secara rutin setahun sekali bahkan mungkin 6 bulan sekali. "Karena jumlah pengrajin batik ada ribuan perlu diadakan lomba desain batik, pemenangnya syukur-syukur dijadikan seragam pegawai kabupaten," kata Suparno, pria yang sudah 30 tahun bekerja sebagai desainer perusahaan batik terkenal di Solo. (Dsh)

Kredit

Bagikan