Oknum Satpol PP Bantah Intimidasi dan Penyekapan

user
Tomi Sujatmiko 05 Oktober 2022, 06:26 WIB
untitled

Krjogja.com - KULONPROGO - Kasus dugaan tindakan intimidasi dan penyekapan yang diduga dilakukan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kulonprogo, AR terhadap wali murid SMAN 1 Wates yang juga pegawai Dinas Pertanahan dan Tata Ruang setempat, Agung Purnomo ternyata dipicu oleh proses pengadaan seragam bagi siswa kelas X sekolah tersebut.

Agung Purnomo merasa terintimidasi dan disekap meminta perlindungan LBH Yogya kemudian melapor ke Polda DIY.  Menanggapi tuduhan yang dilontarkan Agung Purnomo bahwa harga seragam tidak sesuai kualitas, Pengurus Paguyuban Orang Tua (POT) siswa yang mengkoordinir pengadaan seragam, Nurhadiyanto menjelaskan, proses pemesanan seragam sudah melalui kesepakatan.

POT sudah berkomunikasi dengan seluruh orang tua siswa dan pihak sekolah. Selain itu juga mempertimbangkan reputasi dan melihat spesifikasi barang yang ditunjukkan pihak toko yang biasa melayani pengadaan seragam SMAN 1 Wates.

"Setelah kami melihat barang dan mengetahui harganya lalu kami sampaikan ke orang tua siswa. Siapa yang mau ikut membeli dipersilahkan mengisi blangko pemesanan. Dari seluruh blangko, ternyata dari total 252 anak atau orang tua yang ikut pembelian bersama POT sebanyak 240 orang. Sehingga kita pesankan barangnya di toko tersebut," kata Nurhadiyanto saat klarifikasi di Omah Beji, Wates, Selasa (4/10).

Klarifikasi dihadiri Ketua Komite SMAN 1 Wates, Sarji SIP, Kasek SMAN 1 Wates Aris Suwasana dan oknum anggota Satpol PP, AR. "Seluruh proses pengiriman dan penerimaan serta pendistribusian seragam kepada siswa berjalan baik," tuturnya.

Namun pada 19 Agustus muncul komplain lantaran celana salah satu siswa kena knalpot sehingga ada dugaan bahannya mudah rusak. Lalu pada 20 Agustus, orang tua siswa tersebut diantar ke toko untuk minta penjelasan. Dari pihak toko sudah menjelaskan terkait kualitas kain, garansi dan penanganan komplain.

"Pihak toko memberikan garansi satu tahun. Kalau memudar boleh ditukarkan. Kalau ada yang kecewa dengan hasil pengadaan (seragam), uang dan barang bisa kembali, sudah kita ajukan komplain ke toko dan saat itu orang tua bersangkutan menerima," jelas Nurhadiyanto.

Pada 23 September, Ketua POT didatangi lima orang tua yang kecewa pengadaan seragam dan bersikeras tidak terima. "Seorang wali siswa mengaku penyidik (PPNS-Red.) mengatakan punya bukti-bukti dan menuduh POT merancang ingin menikmati selisih harga. Solusi terbaik tidak bisa dicapai dan yang bersangkutan justru menyodorkan pilihan kepada POT ikut melapor atau dilaporkan," tuturnya.

Kendati masalah tersebut sudah ditangani pihak kepolisian, pihak POT berharap tetap ada solusi damai, demi menjaga kondusifnya proses belajar mengajar. Apalagi katanya tidak ada bukti terkait tuduhan-tuduhan tersebut.

Sementara itu Kasek SMAN 1 Wates Aris Suwasana mengatakan, pengadaan seragam menjadi kewenangan POT dan seragam menjadi hak orang tua.

HALAMAN

Kredit

Bagikan