Sejak 2018, JNE Distribusikan 600 Ton Donasi Makanan Berlebih

user
Danar W 06 Oktober 2022, 19:30 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Penyelamatan makanan berlebih di tengah masyarakat menjadi perhatian JNE. Donasi makanan yang masih layak konsumsi ini didistribusikan JNE kepada mereka yang membutuhkan dan mengalami kelaparan sehingga tidak sampai mubazir.

Berkolaborasi dengan bank pangan Foodbank of Indonesia (FOI), JNE telah berhasil menyelamatkan lebih dari 591 ton makanan berlebih di Indonesia sejak tahun 2018 hingga 2022.

Upaya ini sejalan dengan semangat berbagi sesuai prinsip pendiri JNE, Alm. H. Soeprapto Soeparno yaitu Berbagi, Memberi dan Menyantuni, sejak JNE berdiri selama 32 tahun.

"Sesuai tagline JNE Connecting Happiness, JNE berharap akan terus mengantarkan makanan berlebih dari retail untuk masyarakat yang membutuhkan, yaitu anak-anak dan lansia,” ujar Kurnia Nugraha, Head of Media Relations JNE Express di Sekretariat Bank Pangan Yogyakarta di Suryoputran Panembahan, Kraton, Kamis (6/10/2022).

JNE Express juga bergandengan mitra FOI yakni PT Lion Super Indo, perusahaan ritel yang selama ini konsisten dalam mengurangi kemubaziran pangan.

Khusus di Yogya, lanjut Kurnia, JNE telah mendistribusikan sekitar 80 ton makanan selama empat tahun. Distribusi tersebut dilakukan secara gratis. Sejauh ini, pihaknya mendistrubusikan donasi dari mitra FOI ke sejumlah wilayah di DIY yang membutuhkan bantuan makanan seperti panti jompo, panti asuhan, sekolahan.

"Distribusi donasi tergantung permintaan mitra FOI. Kami sudah mengantarkan di tujuh kota seperti Yogya, Surabaya, Cirebon, Malang," ujarnya.

Arya Kusumo, Head of Sustainability Super Indo mengutarakan, pihaknya telah mempraktikkan pencegahan kemubaziran pangan dengan mendonasikan makanan berlebih kepada FOI untuk mengurangi kelaparan dan menekan krisis iklim. Selama empat tahun berjalan, pihaknya telah menyelamatkan dan mendonasikan kurang lebih 632 ton.

Founder FOI M Hendro Utomo mengungkapkan, Foodbank of Indonesia membentuk bank pangan daerah yang telah beroperasi sejak tahun 2017 untuk menyelamatkan makanan berlebih bekerja sama dengan berbagai pihak.

“FOI mendorong terbentuknya jaringan bank pangan hingga tingkat kecamatan yang menyimpan pangan lebihan industri dan keluarga serta dari sumber-sumber sekitar komunitas masyarakat,” katanya.

Di sisi lain, FOI Yogyakarta menjadi salah satu tujuan field trip para peserta Regional Technical Workshop on Food Loss and Waste (FLW) G20 yang diadakan oleh Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian bekerja sama dengan Thunen Institute sebagai organisator isu food loss dan food waste dalam presidensi G20.

Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari praktik pengelolaan potensi food waste yang telah dilakukan oleh Foodbank of Indonesia sebagai bank pangan di Yogyakarta. Dihadiri oleh peserta perwakilan dari 9 negara ASEAN, field trip dilakukan dengan kunjungan ke gudang penyimpanan dan pemilahan makanan dan kunjungan kepada mitra penerima manfaat FOI, yaitu TK Negeri 3 dan Posyandu Sunthi untuk menyaksikan distribusi makanan kepada balita, anak-anak, dan lansia.

Pengurangan food waste menjadi perhatian serius Indonesia dan negara-negara di dunia sesuai komitmen dalam Sustainable Development Goals (SDGs) ke-12 poin ke-3. Negara-negara di dunia diharapkan dapat mengurangi 50% food waste per kapita di tingkat retail dan konsumen pada tahun 2030.

Upaya pengurangan food waste telah sejalan dengan arahan Presiden RI, sebagai bentuk antisipasi menghadapi krisis pangan, krisis energi dan krisis keuangan yang melanda dunia internasional saat ini.

Menurut kajian Bappenas, food loss and waste (FLW) di Indonesia pada tahun 2000-2019 berkisar 23-48 juta ton/tahun, setara dengan 115–184 kg/kapita/tahun.

Hal tersebut berdampak pada kerugian ekonomi sebesar Rp 213-551 triliun per tahun.

Potensi FLW tersebut dapat disalurkan untuk memberi makan 61-125 juta orang atau 29-47% populasi Indonesia.

Dalam operasinya, bank pangan akan mengumpulkan, memilah, mengolah, dan mendistribusikan makanan berlebih kepada para penerima manfaat sehingga dapat menekan kemubaziran pangan sekaligus mengatasi kerawanan pangan. (*)

Kredit

Bagikan