Yogya Dipilih Pengembangan Pendidikan Aman Bencana

user
Tomi Sujatmiko 18 Oktober 2022, 15:47 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan merupakan hak anak yang perlu dipenuhi. Karena itu, semua pihak dari pemerintah, non pemerintah, maupun individu perlu bekerja bersama untuk mewujudkannya.

Hal tersebut disampaikan GKR Mangkubumi anggota Dewan Pembina Yayasan Plan International Indonesia saat
peluncuran program Provinsi Model Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di Hotel Harper Jalan Margoutomo Yogya, Selasa (18/10).

“Kita ingin agar anak-anak, terutama anak perempuan merasa aman dan tenang selama belajar di sekolah," kata Mangubumi. "Kita semua perlu saling mendukung, bekerja bersama untuk mewujudkannya di Yogyakarta ini," sebutnya.

Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia, memaparkan, Yogya dipilih karena telah memiliki sumber daya awal yang cukup untuk pengembangan provinsi model SPAB. Modal yang dimiliki seperti regulasi, anggaran dan fasilitas lokal bisa semakin dikembangkan, sehingga anak, terutama anak perempuan dan penyandang disabilitas, aman sewaktu belajar di sekolah.

“Pengembangan provinsi model SPAB ini adalah bagian upaya untuk mendukung terciptanya lingkungan belajar yang aman bagi anak maupun ekosistem satuan pendidikan di Yogya dan daerah lainnya," ungkap Dini.

"Kami berharap, program ini dapat bermanfaat bagi peserta dan tenaga didik di Yogya, tempat awal berdirinya Plan International di Indonesia," terangnya.

Didik Wardaya, Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta menambahkan program ini sesuai tujuan DIY dalam implementasi SPAB. Saat ini, DIKPORA DIY sedang mengembangkan SPAB di 35 SMA, SMK dan SLB.

“Kita menyadari bahwa bencana alam seringkali tidak dapat dihindari, sehingga sebagai ikhtiar kita berusaha mempersiapkan diri sebaik mungkin," kata Didik.

Program ini sangat membantu dalam mempersiapkan satuan pendidikan untuk menghadapi bencana mulai dari apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya. Walaupun sudah ada 35 SMA/SMK/SLB yang mengimplementasikan SPAB namun belum mencukupi. "Kita ingin lebih banyak lagi satuan pendidikan yang sadar akan pentingnya mempersiapkan diri menghadapi bencana," urai Didik.

Kemdikbud mencatat bahwa sebanyak 52.902 sekolah berada di wilayah rawan gempa, 54.080 di wilayah rawan banjir, dan 15.597 berada di wilayah rawan longsor. Sementara, bencana seperti COVID-19 juga telah melanda seluruh sekolah di Indonesia. (Sal)

Kredit

Bagikan