Dianugerahi Doktor Kehormatan Unnes: Moeldoko Tawarkan Model Kepemimpinan kombinasi

user
Agusigit 22 Oktober 2022, 19:11 WIB
untitled

Krjogja.com - SEMARANG-Universitas Negeri Semarang (Unnes) menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan Honoris Causa kepada Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Dr Dr (HC) Moeldoko SIP MSi, Sabtu (22/10/2022) di Auditorium Unnes kampus Gunungpati Semarang secara luring dan daring. Moeldoko memperoleh anugerah Doktor Honoris Causa pada bidang Manajemen Strategi Pembangunan Sumber Daya Manusia, program studi Ilmu Manajamen Pascasarjana UNNES.

Rektor Unnes Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan penganugerahan gelar doctor honoris cuasa merupakan bentuk kepercayaan publik kepada Unnes untuk memberikan apresiasi kepada putra terbaik bangsa yang pemikiran, karya, dan kompetensinya telah terbukti berperan dalam kemajuan bangsa dan negara.

"Unnes merasa bangga dan terhormat karena Jenderal TNI Moeldoko berkenan menerima gelar tersebut meskipun beliau sejatinya telah memiliki gelar doktor reguler dari Universitas Indonesia (UI)," kata Rektor Unnes.

Prof Fathur menjelaskan, tantangan perguruan tinggi sekarang ini semakin besar. Perguruan tinggi dihadapkan perubahan dunia yang begitu cepat pada era Revolusi Industri 4.0, teknologi disruptif, dan tantangan kenormalan baru pasca-pandemi covid-19. Untuk menghadapi tantangan tersebut, perguruan tinggi membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dari berbagai pihak, antara lain pemerintah, dunia usaha dan industri, juga tokoh-tokoh publik yang memiliki kompetensi dan integritas khusus di berbagai bidang.

Dalam konteks itulah, ujar Rektor, perguruan tinggi perlu melibatkan masyarakat yang memiliki kompetensi luar biasa untuk turut serta mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satu mekanismenya melalui penganugerahan gelar doktor kehormatan atau doctor honoris causa kepada tokoh-tokoh yang memiliki kompetensi luar biasa di bidangnya.

"Kita ketahui bersama Jenderal TNI Dr Moeldoko adalah seorang prajurit yang menghabiskan puluhan tahun waktunya untuk membela dan menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rekam jejaknya jelas menunjukkan beliau seorang patriot yang tidak memiliki keraguan sekecil apa pun dalam membela dan memperjuangkan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Beliau mendedikasikan hidup bagi bangsa, negara, dan Tanah Air tercinta," ucap Prof Fathur.

Prof Fathur menerangkan dalam penganugerahan ini dilakukan dengan kriteria yang ketat. Kriteria tersebut mencakup kriteria kuantitatif-objektif dan kriteria kualitatif-subjektif. Selain kriteria yang ketat, penganugerahan gelar doktor kehormatan ini juga melalui proses panjang yang diawali dengan usulan dari program studi S3 yang terakreditasi A.

"Usulan tersebut kemudian dikaji oleh tim panel terdiri dari para ahli di bidang yang bersangkutan. Hasil kajian Tim Panel kemudian didalami kembali oleh Tim Promotor yang terdiri dari para pakar yang sesuai dengan bidangnya. Hasil kajian yang dilakukan Tim Promotor inilah yang kemudian disampaikan ke senat universitas sebelum kemudian ditetapkan Rektor," kata Prof Fathur.

Pada kesempatan ini, Moeldoko memaparkan orasi ilmiahnya yang berjudul “Membangkitkan Manusia Tangguh: Strategi Pembangunan Manusia Indonesia dalam Menghadapi Tantangan Nasional dan Global Menuju Indonesia Emas 2045”. Dalam paparannya, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menyebutkan dunia dihadapkan pada ketidakpastian dan kompleksitas global yang berimplikasi di lingkup nasional.

Menurutnya, hal ini menimbulkan proposisi negara-negara lain berhasil dalam meningkatkan nilai kompetitif Sumber Daya Manusia (SDM) di negaranya. Sehingga, hal tersebut dimaknai sebagai peringatan bahwa Indonesia perlu mengambil langkah segera dan berani untuk menjaring, mengembangkan, dan meretensi secara berkelanjutan talenta potensial dan unggul Indonesia, untuk peningkatan kualitas manusia Indonesia agar mampu bersaing dengan negara lain di masa kini maupun masa depan.

Oleh karenanya, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko menekankan perlunya membangkitkan kapasitas SDM Indonesia yang inovatif dan kolaboratif. Ada 5 kemampuan dasar yang harus dimiliki Indonesia, yaitu mampu adaptif terhadap perubahan yang terjadi, membangun kecepatan di segala lini, berani mengambil risiko atas kebijakan yang diambil secara konstitusional, siap menghadapi kompleksitas akibat globalisasi, dan siap merespon kejutan-kejutan yang akan terjadi akibat kemajuan teknologi baru.

Selain itu, ia menekankan bangsa Indonesia harus menyiapkan karakter kepemimpinan nasional yang tangguh, sehingga sanggup menghadapi tantangan nasional dan global dalam menyongsong Indonesia Emas tahun 2045. Melalui Model M-Leadership kombinasi kepemimpinan militer, bisnis, dan sipil, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko optimis mampu menjawab tantangan Indonesia.

Ada tujuh prinsip di dalam model kepemimpinan M-Leadership yang digagasnya yakni mendengarkan, memberdayakan, memimpin perubahan, membudayakan belajar, melindungi, bergerak bersama, dan bersuara. Ketujuh prinsip ini akan menghasilkan kualitas kepemimpinan yang berkarakter, berkemampuan administratif, memberdayakan manusia, dan menumbuhkan inovasi sehingga Indonesia dapat melompat menjadi negara yang lebih maju.

Sebagai prajurit dan cendekia, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko dikenal melalui terobosan dalam pengembangan kapasitas sumber daya pertahanan. Ketika menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, ia melakukan terobosan untuk mengatasi kecilnya rasio personel TNI dengan beban pelaksanaan area tugas.

Ketika menjadi Panglima TNI, ia berhasil melakukan restrukturisasi sumber daya manusia dengan meningkatkan disiplin, profesionalisme, dan kesejahteraan prajurit. Reformasi internal yang dilakukannya membuat TNI menjadi lembaga yang paling dipercaya publik. Kini, sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Moeldoko pun tak berhenti untuk menciptakan gagasan-gagasan cemerlang salah satunya dalam peningkatan SDM unggul. Sekolah Staf Kepresidenan adalah bukti nyata terobosan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko sebagai inkubator kepemimpian nasional untuk melahirkan calon pemimpin bangsa di masa depan. Semua prestasi dan terobosan yang dibuatnya tidak terpisahkan dengan filsafat kepemimpinannya 3 M yakni move, motivate, and make different. Konsep 3M tersebut memiliki nilai kebaruan sehingga memiliki bobot akademis tinggi, layak menjadi referensi dalam kajian kepemimpinan, kebijakan publik, dan pengembangan sumber daya manusia.

Di bawah kepemimpinan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, KSP turut menginisiasi perkembangan budidaya tanaman sorgum sebagai bahan pangan alternatif yang dapat menggantikan beras, jagung dan gandum. Pengembangan sorgum dilakukan sebagai inovasi ketahanan pangan Indonesia dalam menghadapi ancaman krisis pangan global.

Selain itu, Jendral TNI (Purn) Moeldoko juga berperan sentral dalam pembentukan ekosistem transportasi bertenaga baterai listrik di Indonesia sebagai alternatif penggunaan transportasi berbahan bakar fosil. Dengan mendorong transformasi menuju sumber energi baru terbarukan yang bersih dan ramah lingkungan, Moeldoko juga bervisi bahwa “Baterai adalah masa depan, masa depan adalah baterai,”.

Sedangkan di bidang pemberdayaan masyarakat, KSP di bawah kepemimpinannya gencar memimpin program reformasi agraria bersama Kementerian maupun Lembaga terkait. Tidak hanya turun langsung ke masyarakat untuk membantu menyelesaikan permasalahan sengketa lahan, dia juga turut memastikan para penerima manfaat diberikan program pemberdayaan ekonomi berkelanjutan.

Tak hanya piawai dalam kepemimpinan, sosok bertangan dingin ini juga berhasil menerbitkan beberapa buku seperti 10 prinsip Kepemimpinan Jenderal Moeldoko, Berjuang Bersama untuk Negeri, Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh 2021, dan M-Leadership Move Motivate and Make A Difference, serta Jenderal Moledoko Sosok Prajurit Cendekia. (Sgi)

Kredit

Bagikan