Petani Ubi Kayu Mengeluh Tak Ada Alokasi Pupuk Subsidi

user
Tomi Sujatmiko 16 November 2022, 11:22 WIB
untitled

Krjogja.com - BANJARNEGARA - Di tengah kembangkitan kembali ubi kayu Banjarnegara yang kini menjadi komoditi ekspor dalam bentuk tepung ke berbagai negara, para petani menghadapikendala tidak adanya alokasi pupuk bersubsidi untuk tanaman singkong atau ubi kayu dari pemerintah.

Hal itu mencuat dalam talk show Kemitraan Komoditas Ubi Kayu antara petani dengan pelaku usaha tepung mocaf singkong dan pihak pemerintah yang digelar Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah di pabrik Mocaf UD Mandiri Gumiwang Banjarnegara, Selasa 15 November 2022.

Diikuti oleh 40 petani singkong, talk show menampilkan narasumber pelaku usaha tepung mocaf Supriyanto (UD Mandiri)
dan Wisnu Sapto (PT Sapto Tani Mocafindo), perwakilan Balai Besar Karantina Pertanian Kelas 1 Semarang Ristiyono, Plt Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan KP) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti serta
Kabid Tanaman Pangan, Suparman.

Perwakilan petani dari Kecamatan Purwanegara, Taryono mengatakan, tanaman singkong membutuhkan pupuk yang cukup agar produksinya maksimal. "Tetapi petani tak mendapat pupuk bersubsidi, padahal singkong termasuk tanaman pangan," katanya.

Hal yang sama juga disampaikan oleh perwakilan petani Kecamatan Bawang, Sudiro. "Petani singkong seharusnya mendapat jatah pupuk bersubsidi," katanya. Selain itu, petani juga perlu dibantu terkait dengan permodalan.

Menanggapi hal itu, Plt Kepala Distankan Banjarnegara Herrina Indri Hastuti mengatakan, Permentan Nomor 10 Tahun 2022 membatasi subsidi pupuk hanya untuk 9 komoditas utama saja yakni padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, bawang putih, tebu, kopi dan kakao. "Terus-terang kami juga pusing, karena Banjarnegara penghasil kentang, singkong dan salak, yang mestinya mendapat subsidi. Tapi mau bagaimana lagi, pemerintah telah melakukan pembatasan pupuk subsidi," ujar Herrina.

Solusinya, menurut Herrina, petani harus membuat pupuk organik. Sedangkan Kabid Tanaman Pangan, Suparman, mengatakan, untuk memenuhi kebutuhan pupuk organik, petani perlu memiliki hewan ternak kambing minimal 2 ekor.

Belakangan ini, harga singkong beranjak naik hingga Rp 1.500/kilogram seiring dengan berkembangnya usaha pengolahan singkong menjadi beberapa produk olahan diantaranya tepung mocaf, gula cair sebagai pengganti gula tebu dan makanan ringan. (Mad)

Kredit

Bagikan