1.603 Kasus Stunting di Karanganyar, Perlu Penanganan Serius

user
Tomi Sujatmiko 24 November 2022, 17:43 WIB
untitled

Krjogja.com - KARANGANYAR - Penanganan kasus stunting membutuhkan kerjasama antarlembaga dan kesadaran masyarakat. Tercatat, 1.603 kasus stunting tahun ini hingga Oktober 2022 atau 3,33 persen dari 42.203 balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Karanganyar, Purwati mengatakan intervensi dinasnya untuk mengatasi kasus stunting maksimal hanya 30 persen. Sedangkan 70 persen lainnya membutuhkan peran dari berbagai bidang seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas KB, dan sebagainya.

"Memang ada penurunan stunting dari 4,48 persen di 2021 menjadi 3,33 persen tahun ini. Meski demikian, targetnya
harus terus ditekan. Perlu intervensi semuanya," katanya, Kamis (24/11).

Ia menyebut intervensinya harus fokus dan terarah. Berdasarkan penelusurannya, 89 persen penderita stunting tak diikutkan PAUD. Selain itu 0,1 persen diantaranya tak memiliki jamban sehat dan orangtua balita stunting minim pengetahuan parenting.

Purwati mengatakan, pencegahan stunting harus dimulai sejak calon ibu masih remaja. Di sini, remaja mendapat obat penambah darah dan konsultasi kesehatan lainnya. Belum banyak berdiri posyandu remaja di tiap desa/kelurahan menjadi problem tersendiri.

"Ada beberapa desa/kelurahan masih bertahan angka kasus dan malah naik di wilayah Kecamatan Kerjo, Tawangmangu dan Ngargoyoso," katanya.

Purwati mengatakan stunting tergantung pola asah, asih dan asuh keluarga.
Di masa kehamilan, ibu disarankan memeriksakan diri minimal empat kali. Kemudian balita stunting perlu mendapat makanan tambahan (PMT) bernutrisi.

Bupati Karanganyar Juliyatmono berharap angka stunting nol pada 2023. Seluruh program penanganan stunting dikembalikan ke desa yang lebih fleksibel dalam penganggaran. "Kebijakan harus berpijak di tingkat desa dan masyarakat," katanya. (Lim)

Kredit

Bagikan