Sepanjang Tiga Tahun, 313 Remaja Terlibat Klitih

user
Tomi Sujatmiko 24 November 2022, 17:23 WIB
untitled

Krjogja.com - SLEMAN - Berbagai upaya preventif hingga penegakan hukum perkara kejahatan jalanan atau sering disebut klitih, sudah dilakukan instansi terkait. Namun, kejahatan jalanan yang melibatkan anak remaja ini masih saja terjadi. Kurun waktu tiga tahun terakhir, terjadi 113 kasus klitih yang melibatkan 313 orang remaja.

"Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, sudah terjadi seratus kasus lebih. Dalam satu kasus, pelaku bisa lebih dari satu orang karena mereka biasanya berkelompok," ungkap Kompol Joko Harmintoyo.

Hal itu dikatakan perwira yang menjabat Kanit Subdit 3 Ditreskrimum Polda DIY, saat menjadi pembicara di Focus Group Discussion (FGD), Kamis (24/11). Acara yang berlangsung di sebuah hotel kawasan Seturan Depok Sleman ini, digelar Ditintelkam Polda DIY dengan tema Klitih Bukan Budaya Yogya. Joko Harmintoyo memaparkan, tahun 2020 terjadi 46 kasus dengan 82 pelaku dan tahun 2021 terjadi 50 kasus dengan 37 pelaku. Sedangkan sejak Januari hingga November 2022, sudah terjadi 17 kasus dengan pelaku berjumlah 45 orang.

"Anak-anak ini sudah terproses, menjalani pemidanaan meskipun dari proses yang dilalui, ada yang selesai setelah dilakukan diversi. Kenapa diversi? Karena memang diatur dalam Undang-undang, meskipun tidak semua kasus bisa diversi," bebernya.

Dikatakan, polisi tidak mengenal istilah klitih, namun menyebutnya dengan kejahatan jalanan yang didominasi oleh remaja (pelajar SMP, SMA/SMK, lulusan SMA/SMK). Dari kasus yang ditangani, mereka melakukan kekerasan di jalanan mayoritas tanpa motif. Aksi yang mereka lakukan, untuk menunjukkan jati diri di hadapan teman atau kelompok lain.

"Sasaran tak jelas, mereka hanya jalan dengan motor, ketemu orang lain dan di situ kekerasan terjadi. Mereka jalan saja tak ada tujuan, tapi mereka membawa sarana yang dapat menimbulkan korban jiwa seperti clurit, pedang, gir, rantai pentungan dan batu," tambahnya.

Sedangkan kriminolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto mengatakan, meskipun melakukan kejahatan, namun remaja yang disebut pelaku klitih, mempunyai tiga kesepakatan. Yakni tidak akan menyerang orangtua, tidak akan menyerang perempuan dan tidak akan menyerang lelaki yang berboncengan dengan perempuan. "Kalau ada driver ojol diserang, ada perempuan diserang di jalanan, itu bukan mereka (remaja klitih)," imbuhnya.

Mereka biasanya melakukan klitih untuk membalas dendam, atau karena solidaritas kelompok dan pertemanan. Sedangkan klitih bisa terjadi antara lain faktor keluarga, salah asuh, aspek fisik dan aspek eksternal.

Suprapto pun memberikan solusi untuk mengatasi klithih yakni mencari penyebab, bukan hanya akibat. "Telusuri juga siapa dalangnya, jangan hanya pelaku, namun di belakang mereka siapa karena kadang mereka bukan atas niat sendiri. Jangan pandang bulu dalam penegakan hukum dan hidupkan lagi fungsi keluarga," tandas Suprapto.

Psikolog Arif Nurcahyo menyebut, klitih merupakan fenomena perilaku remaja di Yogya yang berisiko. Fenomena adanya klitih, yang kemudian bergeser menjadi kejahatan jalanan, menjadi kriminalitas khas di Yogya. Tidak jauh berbeda dengan geng motor di Bandung dan tawuran di Jakarta. (Ayu)

Kredit

Bagikan