Museum Muhammadiyah Dikunjungi Keluarga Tokoh Nasional

user
Danar W 26 November 2022, 00:16 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Sebagai persyarikatan yang memiliki visi “Islam Berkemajuan”, upaya mewujudkan sebuah museum bagi Muhammadiyah adalah sebuah proses panjang yang dinamis dan akuntabel. Salah satu tahapan proses itu adalah menyampaikan perkembangan pembangunan museum sekaligus meminta saran dan masukan untuk penyempurnaan Museum Muhammadiyah dari keluarga tokoh pendiri Muhammadiyah dan keluarga tokoh Pahlawan Nasional yang berasal dari Muhammadiyah. Pertemuan yang yang berlangsung penuh kekeluargaan namun produktif ini diinisiasi Majlis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah yang membawahkan museum, berlangsung pada Kamis, 24 November 2022 di kampus Universitas Achmad Dahlan Yogyakarta yang sekaligus menjadi lokasi museum.

Pada pertemuan itu, terekam bahwa latar belakang perlunya forum bersama dengan para keluarga tokoh didasari oleh kesadaran bahwa tidaklah mudah menghadirkan sebuah museum yang mampu mengakomodasi profil organisasi Muhammadiyah yang begitu besar. Bagi masyarakat Indonesia, bahkan dunia, persyarikatan ini diakui sangat besar karena luasnya amal usaha yang menyasar hampir semua sisi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Data tahun 2017 menunjukkan, Muhammadiyah mengelola hampir 21 juta meter persegi tanah wakaf yang seluruhnya atas nama persyarikatan, atau hampir setara dengan 30 kali luas Singapura (725,7 km2;). Di atasnya berdiri sekurangnya 19.951 sekolah, 13.000 masjid dan mushola, 765 bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 457 rumah sakit dan klinik, 437 baitul mal, 176 universitas dan 102 pondok pesantren.

“Museum Muhammadiyah secara resmi memang telah dibuka pada Senin 14 November 2022 menjelang diselenggarakannya Muktamar ke-48 di Solo. Gedung yang terdiri dari empat lantai dan terbagi dalam delapan zona ini, akan terus dikembangkan dan oleh karenanya sangat memerlukan masukan dari semua pemangku kepentingan, termasuk keluarga para tokoh pendiri dan tokoh Pahlawan Nasional”. demikian Ketua Majlis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah sekaligus Rektor Universitas Achmad Dahlan, Dr. Mukhlas. Pada kesempatan itu, Mukhlas juga menyerahkan buku berjudul “Ensiklopedi Muhammadiyah 2.0,” kepada setiap keluarga tokoh.

Sementara saat pendampingan pada kunjungan lapangan di Gedung Museum, Kepala Museum Afan Kurniawan menyampaikan bahwa untuk mewujudkan museum yang bermutu dan menarik bagi peneliti peminat sejarah dan pengunjung, karakter Museum Muhammadiyah dibangun atas tiga kekuatan, yaitu kesejarahan/histori, implementasi secara penuh teknologi informasi serta sentuhan seni/art dari para ahli dan pelaku seni. Lembaga museum ini juga dedikasikan untuk semua kalangan, termasuk anak-anak, kaum difabel serta orang tua. Terkait dengan hal tersebut, pada desain gedung seperti lintasan pengunjung serta perlengkapan pendukung pengunjung seperti kusi roda disediakan oleh museum. Pada sesi ini para Kurator Museum dan petugas Edukator turut mendampingi dan menjelaskan tentang konten, penggunaan teknologi dan narasi yang disajikan kepada para keluarga tokoh.

Pada perkembangan saat ini, museum menyediakan delapan zona yang siap dikunjungi oleh pengunjung museum. Dimulai dari Zona Layanan Pengunjung, Pengantar Pameran, Zona Lahirnya Muhammadiyah, Muhammadiyah dalam Lintasan Sejarah, Muhammadiyah dan Kelahiran Republik, Organisasi Otonom Muhammadiyah, dan ditutup dengan Zona Pameran Temporer Islam Yang Menggembirakan. Seluruh zona dirasakan sangat menarik untuk disimak karena kemasan kombinasi narasi, video dan gambar serta pendampingan para edukator yang mengesankan. Pada Zona Pembawa Cahaya misalnya, disajikan lintasan sejarah dunia serta latar belakang lahirnya Muhammadiyah sebagai organisasi pembaharu. Pada Zona Muhammadiyah dan Kelahiran Republik disajikan peran besar sejarah para tokoh Muhammadiyah dalam melahirkan NKRI serta upaya mempertahankan dan membangun sistem serta kelembagaan negara RI.

Di Zona Kelahiran Republik ini juga tersaji lukisan diatas kanvas disertai narasi dari 22 Pahlawan Nasional yang seluruhnya berlatar belakang Muhammadiyah seperti KHA Dahlan, Dr. Sutomo, Ir. Sukarno, Pangsar Sudirman dan Kasman Singodimedjo. Adapun situasi sejarah, latar belakan kejuangan dan perkembangan serta dinamika kepemimpinan pada Lembaga otonom Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul Aisyiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, Tapak Suci Putra Muhammadiyah, serta Kepanduan Hizbul Wathan juga tersaji dengan sangat menarik pada Zona Organisasi Otonom Muhammadiyah.

Pada akhir kunjungan dan dialog, para keluarga tokoh pendiri Muhammadiyah dan Pahlawan Nasional yang nampak hadir seperti keluarga KHA Dahlan, HM. Baedhowi, Ki Bagus Hadikusumo, Syafii Maarif, Abdul Kahar Muzakir, Kasman Singodimedjo, Lafran Pane dan yang lainnya secara bergantian memberikan masukan dan menyatakan bangga atas dibangunnya Museum dan berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam penyempurnaannya sebagai sinergi perwujudan visi “Islam Berkemajuan” dan penegasaan jati diri Muhammadiyah sebagai “Gerakan Pencerahan” (al-harakah al-tanwîriyah).(*)

Kredit

Bagikan