Padi di Sragen Mendadak 'Karatan'

user
Ivan Aditya 28 November 2022, 15:47 WIB
untitled

Krjogja.com - SRAGEN - Sejumlah petani di Kabupaten Sragen mengeluhkan padi yang ditanam mendadak teyeng atau karatan pada batang dan daun. Akibatnya, tanaman padi tidak bisa berkembang dan perlahan-lahan mati.

Fenomena daun padi yang mendadak menguning dini saat berumur 15-20 hari ini terjadi di ratusan hektare lahan padi milik petani. Menguningnya tanaman padi yang diduga akibat pupuk palsu ini setidaknya terjadi di Kecamatan Sidoharjo, Masaran, Sragen, Tangen dan Sambungmacan.

Diungkapkan Kepala Desa (Kades) Sribit, Kecamatan Sidoharjo, Sutaryo, fenomena padi menguning atau teyeng ini juga masif terjadi di wilayahnya. "Di desa kami, ada sekitar 200 hektare lahan pertanian yang ditanami padi. Hampir separuhnya mengalami kejadian ini. Petani benar-benar menangis," ujarnya.

Menurut Sutaryo, para petani yang tanaman padinya tiba-tiba menguning dini hanya pasrah dan membiarkan begitu saja padinya sampai mati. Tapi tidak sedikit pula petani yang kemudian menanam ulang padi yang rusak tersebut. "Kemungkinan ini karena faktor PH tanah atau tingkat keasaman tanah yang istilahnya sudah capek karena ditanami nonstop oleh petani. Bisa juga karena diberi pupuk palsu yang beredar," jelasnya.

Kecurigaan beredarnya pupuk palsu yang menyebabkan pohon padi karatan ini juga diungkapkan para petani di Kecamatan Sambungmacan. Ketua Poktan Desa Banyurip, Kecamatan Sambungmacan, Hari Cahyono mengungkapkan, pupuk subsidi yang diduga palsu paling banyak jenis Urea. Banyak petani di wilayahnya mempertanyakan kios pengecer resmi yang bisa menjual pupuk Urea bersubsidi di luar kuota.

Pupuk itu dijual dengan harga mahal, hampir dua kali lipat dari harga eceran tertinggi (HET). Jika biasanya HET Urea Subsidi hanya Rp 110.000 per zak ukuran 50 kg, pupuk di luar kuota itu dijual Rp 220.000 sampai Rp 230.000 per zak. "Bahkan ada yang dijual Rp 235.000 per zak. Petani juga pada heran, kok bisa pengecer resmi punya pupuk Urea dengan label tulisan subsidi. Sekilas juga sama kemasannya dengan yang asli," jelasnya.

Tak hanya Urea, Hari menyebut pupuk jenis Phonska dengan label subsidi juga ditemukan banyak dijual. Harganya pun juga hampir setara. Jika HET Phonska untuk petani dibanderol Rp 115.000 per zak, pupuk subsidi liar itu dijual hampir dua kali lipatnya sekitar Rp 220.000 per zak. Meski mahal, petani banyak yang memburu untuk mencukupi kekurangan karena jatah yang mereka dapat sangat jauh dari kebutuhan.

Menurut Hari, petani juga resah dengan indikasi pupuk tersebut dipalsukan. Hal itu ditandai dari kemasan dan khasiatnya yang berbeda dengan pupuk subsidi umumnya. "Banyak petani yang mengeluh setelah diberi pupuk, tidak langsung membuat tanaman hijau. Akan tetapi justru mandek perkembangannya dan menguning daunnya," tambahnya.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Tanon Sragen, Arif menyampaikan, pihaknya curiga ada sejumlah kios pengecer resmi yang bisa menjual pupuk dengan label subsidi di luar jatah alokasi petani. Tidak hanya jenis Urea, ada pula pupuk ZA bersubsidi yang dijual oleh beberapa pengecer resmi. Padahal tahun ini Sragen tidak mendapat kuota pupuk ZA dan SP-36 bersubsidi.

Pihaknya berharap dari Pemkab melalui dinas terkait bisa turun ke bawah untuk mengetahui penyebab menguning dini tanaman padi di Sragen. Apakah memang akibat pemberian pupuk palsu atau sebab lain. (Sam)

Kredit

Bagikan