Kerajinan Bambu Nitikan Gunungkidul Tembus Pasar Luar Negeri

user
Ary B Prass 29 November 2022, 17:57 WIB
untitled

Krjogja.com - GUNUNGKIDUL - Bambu merupakan tanaman yang mempunyai berbagai macam manfaat terutama bidang kerajinan. Kerajinan yang terbuat dari bambu ini selain dapat digunakan untuk keperluan pribadi juga dapat diperjualbelikan.

Gunungkidul termasuk dalam wilayah yang menghasilkan kerajinan bambu dan beberapa diantaranya telah masuk dalam pasar luar negeri. Salah satunya kerajinan bambu FDA Handycraft Padukuhan Nitikan barat, Semanu, Gunungkidul.

FDA Handycraft berdiri sejak tahun 2002 dengan 3 karyawan tetap serta puluhan karyawan freelance. Memanfaatkan bambu dari gunungkidul para pengrajin menyulap bilah-bilah bambu menjadi suatu karya yang unik seperti lampion, nampan bambu, berbagai souvernir pernikahan, tempat tisu dsb.

“FDA Handycraft ini berdiri sejak 2002 namun sebelum berdiri ayah saya sudah membantu simbah dari tahun 1987. Kemudian pada tahun 1998 dapet orderan pertama kali yaitu tempat tisu. Untuk saat ini karyawan ada 3 yang tetap serta puluhan freelance.” Ujar Asrofi tegar sekertaris sekaligus anak dari pemilik usaha kerajinan Selasa (29/11/2022)

Asrofi menambahkan, pasar produk kerajinan FDA Handycraft malah bukan pasar lokal melainkan pasar luar negeri seperti Belanda, Spanyol, Amerika dan beberapa negara Eropa lainya.

“ini sebenarnya orderan-orderan dari PT di daerah Jogja, Kulon Progo, Sleman yang gak dijual di lokalan namun pasar ekspor. Misalnya lampion-lampion dari bambu coil itu dijualnya ke Belanda. Dulu ada yang di Spanyol, Amerika, sama Eropa. Untuk yang sekarang kebanyakan di Belanda,” tutur asrofi.

Harga produk kerajinan bambu disini cukup beragam dari mulai yang termurah hanya Rp 1.500 hingga Rp 1,5 jutaan. Karena bermain pada pasar ekspor tak jarang FDA Handycraft mendapat pesanan dalam jumlah banyak. Seperti pada tahun 2008 pernah menggarap orderan terbanyak yaitu mencapai 2.400 pcs.

Namun disisi lain ketika musim penghujan tiba produksi menjadi terkendala karena beberapa produk harus dijemur sedangkan musim penghujan jarang ada terik matahari. Selain itu hujan membuat bambu menjadi lembab sehingga bambu mudah berjamur.

“Susah banget ketika musim hujan soalnya mau jemur bahan kerajinan jadi terkendala, harusnya tiga hari jemur, bisa lebih lama lagi sampai semingguan akhirnya proses pengeringannya terlambat. Selain itu bambu menjadi lembab ketika hujan sehingga yang belum terkena anti jamur dapat nrucuk jamurnya dan bisa direject produknya,“ jelas Asrofi.

Terlepas dari semua kendala itu, asrofi berharap Industri kerajinan bambu FDA Handycraft dapat bermanfaat untuk masyarakat dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar maupun yang lebih luas lagi.

“harapan saya kedepannya, semoga FDA Handycraft dapat bermanfaat sebagai ladang mencari nafkah serta mengurangi angka pengangguran. Dan semoga bisa mengembangkan SDM masyarakat sekitar sini melalui kerajinan bambu,” pungkasnya. (Putut Al Amin)

Kredit

Bagikan