Sri Sultan Ajak Kapolda dan Kajati DIY Main Ketoprak, Siap-Siap ‘Digarapi’

user
Tomi Sujatmiko 01 Desember 2022, 18:52 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Pejabat tinggi di DIY bakal memainkan lakon dalam pagelaran ketoprak bertajuk Crah Agawe Bubrah Rukun Agawe Santosa di Monumen Serangan Oemoem 1 Maret, Sabtu 3 Desember 2022. Para pejabat yang biasanya berjarak dengan masyarakat akan tampil dengan lakon-lakon yang diperankan, bahkan siap-siap digarapi para pemeran ketoprak dan seniman seperti Dalijo dan Didik Nini Thowok.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi mengatakan pementasan ini mencoba mendinginkan situasi jelang pemilu 2024 sekaligus menjadi ruang bertemu tanpa sekat pemerintahan di DIY. Tidak hanya pemda saja tapi juga akademisi bahkan Kapolda DIY, Danlanud, Danrem bahkan Kepala Kejaksaan Tinggi dan pimpinan lainnya.

“Harapannya bisa lebur dengan masyarakat dan saling mengenal satu sama lain. Ini ketoprak pejabat pertama kali bisa menurunkan dengan cukup komplit. Tidak ada pakem, tanpa dialog, sedapat dan sekenannya. Lintas bahasa namun dijamin dalam kesatuan konteks yang nyambung. Sifatnya sangat cair, kalaupun lucu bagian dalam pertunjukan. Dagelan tapi serius begitu, harapannya seluruh komponen di DIY akan semakin rekat dan kuat,” ungkap Dian, Kamis (1/12/2022).

Bambang Paningron, Sutradara Ketoprak Pejabat, menambahkan tokoh-tokoh petinggi akan tampil seperti Kapolda DIY, Gubernur AAU, Danlanal, Kepala PN Yogyakarta, Kepala Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, Bupati Gunungkidul, Wakil Bupati Bantul, Jajaran Rektor UGM hingga Kepala Dinas Pariwisata DIY. Dawuh Sultan, menurut Bambang, ingin mendekatkan pejabat tinggi pada masyarakat akan berusaha ditampilkan melalui pagelaran ketoprak nanti.

“Pesan Sultan ini seakan bisa nyambung karena kekuasaan atau jabatan yang dimiliki tak ada gunannya jika tak membawa manfaat bagi masyarakat. Bahasa ketopraknya, opo gunane dari ratu menopo ora iso ngratoni atine wong cilik,” terangnya.

Bambang juga mengungkap, nantinya akan ada pejabat yang digarapi oleh teman-teman dari tim pengembangan ketoprak DIY yang ambil bagian. Ada oase untuk berbicara sesukanya, bersenda gurau pada para pejabat namun dengan tetap memperhatikan batasan.

“Kapolda DIY misalnya sejak awal minta dipilihkan tokoh yang paling antagonis. Akhirnya menjadi Botoh yakni penyandang dana untuk kepentingan tertentu. Banyak adegan bagi-bagi uang di situ. Ini seperti bercermin di kalbu rakyat, saya ibaratkan seperti itu,” sambungnya.

Cerita lakon Crah Agawe Bubrah Rukun Agawe Santosa mengisahkan sebuah proses pilihan lurah di sebuah wilayah. Konflik yang muncul, intrik, strategi, money politic dan hoax dihembuskan saat proses itu ditunjukkan dalam babak-babak yang ada. Hal ini sekaligus menjadi penggambaran tentang bagaimana masyarakat harus hati-hati karena sangat mungkin muncul di masa-masa mendatang.

“Cerita ini bisa jadi warning untuk kita semua. Apalagi akan ada tahun politik ke depan. Semoga ada hal yang bisa kita pelajari dari sini,” pungkas dia. (Fxh)

Kredit

Bagikan