BMKG: Curah Hujan Desember di DIY Kian Tinggi, Warga Jangan Panik

user
Primaswolo Sudjono 02 Desember 2022, 06:05 WIB
untitled

Krjogja.com -  

YOGYA - Selama bulan Desember 2022, cuaca diperkirakan akan lebih sering hujan dari sebelumnya, dengan intensitas yang bervariasi. Mulai dari ringan hingga sedang dengan durasi lama, hingga sedang sampai tinggi dengan durasi yang singkat.
Berdasarkan keterangan dari pihak Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika, YIA saat diwawancarai pada Rabu (30/11/22), memasuki bulan Desember ini cuaca akan lebih dominan hujan. Khusus untuk wilayah DIY yang sudah mulai memasuki musim penghujan sejak akhir Oktober, Desember ini akan menjadi puncaknya.
“Memasuki bulan Desember ini, hujan akan lebih sering turun bahkan hampir setiap hari. Intensitasnya pun bervariasi, kalau intensitasnya ringan sampai sedang durasinya akan lama, bisa dari pagi hingga sore. Bisa juga intensitasnya sedang sampai lebat namun durasinya singkat, hanya kisaran 2-3 jam,” ungkap Anang Ariane sebagai prakirawan cuaca.
Lebih lanjut, Anang menjelaskan jika dengan intensitas hujan yang dominan tinggi itu potensi akan bencana alam kian tinggi pula. Bencana alam itu pun bervariasi dan tidak sama di tiap-tiap daerah sesuai dengan letak geografisnya.
“Untuk wilayah DIY, daerah yang rawan akan bencana hidrometeorologi berdasarkan letak geografisnya misalnya Sleman dengan adanya lereng gunung Merapi dan banyak dilalui sungai-sungai itu rawan akan terjadinya banjir bandang. Kemudian di Kulonprogo karena lerengnya yang cukup terjal maka rawan terjadi tanah longsor. Untuk Kota Yogya dan Bantul karena merupakan daerah yang datar dan cekung maka rawan terjadi banjir genangan. Gunungkidul yang juga banyak dilalui sungai juga rawan terjadi banjir bandang,” jelasnya.
Pihak BMKG menghimbau kepada masyarakat khususnya wilayah DIY dan sekitarnya untuk jangan panik dan tetap waspada. Pihak BMKG juga mengingatkan kepada masyarakat akan pentingnya mengenal potensi bencana di daerahnya masing-masing. Sehingga masyarakat dapat mencegah atau setidaknya meminimalisir terjadinya bencana alam di lingkungannya.
“Seperti misalnya di lingkungan tersebut rawan banjir maka sebaiknya rutin mengadakan gotong royong untuk membersihkan saluran air. Atau di lingkungan lain banyak pohon yang rindang atau akarnya yang sudah lapuk maka sebaiknya ditebang. Dan pencegahan-pencegahan lainnya,” imbuh Anang.
Untuk masyarakat yang mata pencahariannya bergantung kepada cuaca seperti petani dan nelayan, BMKG hanya memberikan informasi terkait parameter-parameter yang berkaitan dengan cuaca dan iklim. Selanjutnya dari Dinas Pertanian dengan berbekal informasi iklim dari BMKG yang akan menerbitkan kalender tanam. Kalender tanam itu yang menjadi acuan bagi petani dalam menanam tanaman yang cocok dan sesuai dengan periode yang ada di kalender.
Lebih lanjut, Anang Ariane menerangkan jika di BMKG terdapat program Sekolah Lapan Iklim dan Sekolah Lapan Cuaca Nelayan yang merupakan program pendidikan dan pelatihan bagi penyuluh pertanian dan penyuluh nelayan untuk dapat menafsirkan informasi terkait cuaca dan iklim yang nantinya disampaikan kepada kelompok-kelompok petani dan nelayan.
“Di tingkat kecil pertanian itu ada yang namanya penyuluh pertanian. Penyuluh pertanian itu yang berhubungan langsung dengan petani. Nah, mereka yang berinteraksi langsung dengan petani itu sebelumnya kami berikan pendidikan dan pelatihan agar dapat membaca informasi terkait meteorologi dan klimatologi untuk dapat menginformasikan kepada para petani. Sama halnya dengan nelayan,” tutur prakirawan cuaca yang bertugas di BMKG YIA itu.
Sebagai informasi, bagi masyarakat yang ingin memperoleh informasi terkait cuaca dengan lebih lengkap dan terperinci dapat mengakses media sosial Info BMKG YIA atau di web stamed.jogja.bmkg.go.id. Atau bisa juga install aplikasi info BMKG atau Sidarma Mobile di Playstore. (Lukman Hakim)

Kredit

Bagikan