Tunanetra, Safira Jago Menyanyi dan Membuat Lagu

user
Ivan Aditya 02 Desember 2022, 16:39 WIB
untitled

Krjogja.com - KLATEN - Andai mata ini bisa melihat dunia. Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan bocah tunanetra (Tunet), Revita Cahya Safira (10), membuat para tamu acara pelantikan pengurus NPCI di Pendapa Pemkab Klaten, Kamis (01/12/2022) menangis.

Lagu yang mengisahkan diri Safira yang tuna netra sejak lahir. Ia berangan-angan seandainya bisa melihat dunia dan menatap sang surya. Namun, angan-angan itu tetap sekedar angan-angan. Safira bocah kelas 4 SLB A YAAT Trunuh, Klaten Selatan ini bisa menerima kondisinya yang tunanetra sejak lahir. Ia menjalani hari-harinya penuh semangat. Bahkan dari lirik lagunya ditutup dengan kalimat yang sangat menyentuh perasaan. Tuhan, terimakasih, indah kelebihan dibalik kekurangan yang kumiliki.

Lagu yang digubah sendiri oleh Safira tersebut memberikan energi dan semangat besar bagi dirinya. Tunanetra tak membuat Safira bersedih. Ia selalau ceria, dan terus menebar senyum. Setiap kata yang diucapkan, dilafalkan sangat jelas dengan suaranya yang jernih dan lantang sembari selalu tersenyum. Ia berharap bisa menjadi penyanyi profesional dan terkenal.

 “Aku kan Tunet (tunanetra), aku lahir prematur tahun 2011. Aku belajar nyanyi, yang melatih vokal mamaku sendiri. Umur 3 tahun mulai nyanyi. Kalau backing vokal aku sendiri, ga ada yang ngajari,” kata Safira didampingi kakeknya, Waryono.

Safira bocah tunet dengan talenta yang luar biasa. Sejak masih balita, Safira bercita-cita ingin menjadi artis, dan hingga sekarang ia konsisten berlatih menyanyi secara autodidak.

Pada umur 6 tahun, Safira juga mulai belajar main piano secara autodidak. “Saat itu simbah ke Kediri, bawain aku piano dari Klaten. Paginya setelah simbah pulang aku langsung belajar piano sendiri. Lagu berjudul Aku Bisa, itu yang ciptakan mama, yang aransemen aku dan yang nyanyi aku. Lagu ini memang mencerikan kondisi tentang aku. Meski aku tunet, semua aku lakukan secra aotodidak,” jelas Safira penuh semangat.

Semua Safira tinggal di Kediri bersama kedua orangtuanya. Sejak Juli 2022 dibawa pindah ke Klaten oleh kakeknya, Waryono. Setiap hari Waryono dan istrinya yang tinggal di Senden, Ngawen, setia antar jemput Safira yang Sekolah di SLB A YAAT Trunuh.

Safira juga mahir menggunakan HP. Awalnya Safira memang kesulitan mengoperasikan HP. Setelah diinstalkan aplikasi aksesibilitas oleh papanya, kini Safira tidak perlu baca-baca layar. “Sekarang telepon bisa, pesan suara bisa, download aplikasi juga bisa,” jelas Safira. (Sit)

Kredit

Bagikan