BI dan TPID di DIY Perkuat Sinergi

user
Ivan Aditya 02 Desember 2022, 19:12 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Secara keseluruhan, inflasi DIY pada 2022 diprakirakan meningkat dibandingkan 2021. Dalam rangka mengantisipasi risiko inflasi, Bank Indonesia (BI) bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY terus memperkuat sinergi dan melakukan kegiatan guna memastikan ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif, termasuk di dalamnya meneruskan upaya-upaya melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).

Plh. Kepala Perwakilan BI DIY Harso Hutomo mengatakan BPS DIY telah merilis Indeks Harga Konsumen (HK) DIY pada November 2022 mengalami inflasi yoy 0,32% (mtm) atau 5,80% (ytd). Dengan capaian tersebut, secara tahunan inflasi DIY 2022 berada pada level 6,54% (yoy) atau di atas sasaran inflasi yang ditetapkan pada 3 + 1% (yoy). Namun demikian, level inflasi tahunan tersebut lebih rendah dibandingkan capaian pada bulan sebelumnya sebesar 6,67% (yoy).

"Inflasi DIY pada November 2022 didorong semua kelompok, yaitu kelompok inflasi inti (core inflation), kelompok harga pangan bergejolak (volatile food), dan kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) berdasarkan disagregasinya. Sumber tekanan inflasi terutama berasal dari naiknya harga bahan bakar rumah tangga, tempe, telur ayam tas, dan emas perhiasan," tandasnya di Yogyakarta, Jumat (02/12/2022).

Harso menyampaikan dari sisi kelompok core inflation, emas perhiasan mengalami kenaikan harga akibat gejolak perekonomian global. Kelompok administered price mengalami inflasi disebabkan kenaikan harga bahan bakar rumah tangga dengan capaian sebesar 0,48% (mtm). Inflasi ini dipengaruhi adanya second round effect pasca kenaikan harga BBM yang berdampak pada kenaikan ongkos distribusi. Hal ini mendorong adanya penyesuaian harga ritel untuk LPG, meski harga LPG tingkat agen tidak mengalami peningkatan sejak penyesuaian harga pada 10 Juli 2022.

"Dari kelompok volatile food, inflasi bulanan tercatat sebesar 0,66% (mtm). Sumbangan inflasi berasal dari komoditas tempe dan telur ayam ras yang masing-masing menyumbang andil 0,03% (mtm)," tambahnya.

Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS), rata-rata harga telur ayam ras di DIY pada November 2022 mencapai Rp27,65ribu per kg, naik dari Oktober 2022 Rp25,6ribu per kg. Harga ini berada di atas harga acuan Bapanas pada tingkat konsumen, yakni Rp 27ribu per kg.

"Kenaikan inflasi volatile food lebih lanjut tertahan oleh deflasi yang terjadi pada komoditas aneka cabai. Berdasarkan PIHPS, rata-rata harga cabai merah di DIY pada November 2022 mencapai Rp32,2ribu per kg, lebih rendah dibandingkan Oktober 2022 sebesar Rp 42,65ribu per kg," pungkas Deputi Kepala Perwakilan BI DIY ini. (Ira)

Kredit

Bagikan