Urun Rembug Sinergi Pentahelix untuk Yogyakarta Bebas Stunting

user
Ivan Aditya 03 Desember 2022, 18:40 WIB
untitled

Krjogja.com - SLEMAN - Angka stunting di Indonesia menunjukan angka yang masih cukup tinggi yakni 24,4%. Padahal WHO menetapkan batas maksimal kasus stunting berada pada angka 20%. Tingginya angka tersebut menempatkan Indonesia berada di urutan kedua di Asia Tenggara dengan angka stunting tertinggi di bawah Kamboja.

Seperti dikatakan Koordinator Perguruan Tinggi Pendamping Percepataan Penurunan Stunting di DIY, Mutiara Tirta Prabandari Lintang Kusuma, PhD bahwa pemerintah saat ini terus berusaha untuk menekan tingginya angka stunting tersebut. Pemerintah menargetkan pada tahun 2024 stunting di tanah air angkanya bisa turun menjadi 14%.

"Sebenarnya pemerintah memiliki kepedulian yang besar kepada permasalahan gizi anak Indonesia karena itu untuk masa depan bangsa. Dahulu memang program-program diarahkan pada pengentasan gisi buruk. Sekarang masalah gizi buruk telah tertangani sehingga kini pemerintah ingin fokus pada isu kesehatan yang lebih besar yakni stunting," kata Mutiara disela seminar bertema 'Urun Rembug Sinergi Pentahelix untuk Yogyakarta Bebas Stunting' yang digelar di Hotel Eastpark Sleman, Sabtu (03/12/2022).

Ia mengatakan, dari berbagai riset diketahui anak yang mengalami stunting akan memiliki masalah pada fungsi kognitif. Anak normal akan memiliki konektifitas di dalam otak lebih padat dibanding, hal ini berbanding terbalik dengan seorang yang mengalami stunting.

Stunting menurut Mutiara tak hanya sekedar pertumbuhan secara fisik saja yang lambat, namun juga perkembangan otak menjadi terhambat. Jika permasalaha tersebut tak segera ditangani maka generasi bangsa ini pada masa yang akan datang bisa terhambat dan tak memberikan banyak kontribusi bagi Indonesia.

"Bukan hanya permasalahan anak terselamatkan, tetapi anak-anak pada usia dewasa mereka bisa produktif punya prestasi belajar yang baik dan mereka bisa berkontribusi besar kepada bangsa. Ini yang kami inginkan sehingga stunting kini menjadi fokus utama pemerintah," imbuh Mutiara yang juga sebagai Dosen Departemen Gizi Kesehatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) UGM tersebut.

Di DIY sendiri kasus stunting cukup rendah dan berada di bawah angka nasional, yakni 17,3%. Angka tersebut menempatkan DIY berada di urutan ketiga terbaik angka stunting di tanah air di bawah DKI Jakarta dan Bali.

Untuk DIY angka stunting tertinggi terdapat di Gunugkidul (20,6%) dan Kabupaten Bantul (19,1%). Sedangkan angka stunting paling rendah terjadi di Kabupaten Kulonprogo (14,9%) disusul Bantul (16,0%) dan Kota Yogyakarta (17,1%).

"Apa yang dilakukan pemerintah sudah baik. Yang harus kita lakukan saat ini yaitu bergerak bersama-sama. Kadang program sudah bagus tetapi skalanya masih kecil, jika sebelumnya satu desa maka harus ditambah skalanya menjadi satu provinsi," jelas Mutiar.

Ketua Pelaksana Program Kedaireka Yogya Istimewa, DR Lily Arsanti Lestari, STP, MP menanbahkan program ini bertujuan secara umum untuk membantu pemerintah dalam percepatan penurunan angka stunting di DIY. Kegiatan ini didanai oleh Kedaireka Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi serta harapannya bisa menghilirisi hasil produk penelitian dosen untuk dapat dimanfaatkan masyarakat secara langsung.

"Dalam seminar ini kami menghadirkan akademisi, pemeritah, pelaku usaha, media maupun masyarakat. Kami menghimpun lima unsur tersebut untuk bagaimana mempercepat penurunan stunting di DIY," kata DR Lily Arsanti Lestari.

Kegiatan ini menggandeng enam perguruan tinggi diantaranya UGM, UNRIYO, UAD, UMY, Poltekes Kemenkes dan UGK. Rangkaian kegiatan ini sendiri telah berlangsung sejak Agustus lalu mulai dari kursus terbuka untuk masyarakat, sosialisasi aplikasi tentang stunting, mengembangkan kanal ilmu pngtahuan terkait informasi stunting dan kegiatan akademis lainnya.

Dosen Departemen Gizi Kesehatan FKKMK UGM ini berharap dari seminar ini akan menghasilkan rekomendasi untuk dijadikan mode bahwa DIY mampu menurunkan angka stunting. Dengan demikian apa yang dilakukan ini dapat diduplikasi daerah lain untuk dapat menekan angka stunting di Indonesia. (*)

Kredit

Bagikan