Mengenang Kebesaran Masjid Kauman-Plered

user
Tomi Sujatmiko 05 Desember 2022, 14:25 WIB
untitled

Krjogja.com - BANTUL - Keberadaan masjid tidak bisa dipisahkan dari sistem tata kota kerajaan Islam di nusantara pada masa lampau. Hal tersebut juga berlangsung hingga saat ini dengan adanya masjid yang berada dekat dari bangunan Kraton dan Alun-alun.

Bahkan, tata letak kota tersebut juga diadopsi banyak pemerintah daerah dengan menempatkan masjid di dekat Alun-alun kota dan pusat pemerintahan. Sehingga, keberadaan Masjid Kauman-Plered di Dusun Kauman Kalurahan Pleret Kapanewon Pleret Bantul yang diyakini bagian dari Kerajaan Mataram Islam abad ke-17 periode kepemimpinan Sunan Amangkurat I (1647-1677) sangat menarik untuk diungkap. Di lokasi tersebut, terdapat tinggalan arkeologis sisa bangunan masjid yang dikenal dengan Masjid Agung-Plered, Masjid Ageng atau Masjid Ngeksiganda dalam babad Momana.

Kepala Seksi Pemeliharaan Warisan Budaya Benda Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY Marendra Mikaton ST MEng menyampaikan, pada 2022 ini pihaknya bekerjasama dengan BPCB DIY untuk melestarikan cagar budaya situs Masjid Kauman-Plered. Pasalnya, keberadaan situs tersebut berada di Kawasan Cagar Budaya Kedaton Pleret. Selain itu juga diperkuat melalui Surat Keputusan Gubernur DIY Nomor 194/KEP/2019 tentang Penetapan Situs Cagar BUdaya Kerta, Situs Cagar BUdaya Kedaton-Plered, Situs Cagar Budaya Kauman-Plered dan Situs Cagar Budaya Makam Ratu Malang-Plered.

"Terdapat tinggalan arkeologis berupa sisa struktur bangunan Masjid Kauman-Plered di kawasan tersebut. Sehingga kami bersama BPCB Yogyakarta melakukan beberapa kegiatan pelestarian dan penyelamatan terhadap struktur bangunan di sana," kata Marendra, Kamis (1/12).

Dijelaskan lebih lanjut, pelestarian dan penyelamatan yang dilakukan saat ini terhadap struktur dinding masjid sisi utara. Berupa rekonstruksi dinding masjid sisi utara yang memang sudah ada temuan insitu sebelumnya, tapi tidak utuh.

"Kondisinya miring sehingga perlu dilakukan pemugaran untuk selanjutnya dilakukan rekonstruksi seperti aslinya berdasarkan penelitian dan studi. Kegiatan ini dilakukan tim dari BPCB DIY sehingga diharapkan nantinya struktur dinding sisi utara dapat merepresentasikan peninggalan dahulu," sambungnya.

Dari tinggalan Masjid Kauman-Plered ini ditemukan sisa komponen, seperti 23 umpak bangunan terbuat dari batu andesit, balok batu yang diperkirakan sebagai ambang pintu sisi utara dan sebagian tembok masjid sisi utara dan sisi barat berikut dengan bagian ruang mihrab.

Bangunan masjid terdiri dari ruang utama berukuran 41 x 41 meter berupa satu ruangan tanpa sekat permanen dan indikasi keberadaan serambi. Berdasarkan temuan umpak beserta landasannya, diyakini konstruksi atap bangunan inti masjid ditopang 36 buah umpak.

 

 

Masjid Kauman-Plered
© 2022 krjogja.com/Febriyanto

 

 

Sementara sisa-sisa struktur tembok masjid yang berada di sisi barat dan utara dalam bentuk sisa pondasi bangunan berbahan bata dan batu putih. Pada temuan arkeologis insitu struktur tembok sisi utara, ada 42 lapis batu. Kemudian, tatanan struktur batu tersebut ditandai untuk kemudian dibersihkan dan ditata lagi. Pada bagian struktur yang batunya hilang, akan diganti batu baru dengan dimensi yang sama.

"Untuk struktur tersebut ketika digali masih utuh sehingga setelah dilakukan tahapan penyelamatan kemudian dikembalikan lagi. Pada struktur pondasi tembok masjid tersebut tercatat pada pondasi ada enam lapis batu, tekukan 11 lapis dan sisanya bangunan tembok dengan kondisi insitu atau sesuai di tempat saat ditemukan," urai Marendra.

Sebagaimana diketahui bahwa pemerintahan Sunan Amangkurat I abad 17 memindahkan Kerajaan Mataram Islam dari Kerta ke Plered. Dan Masjid Agung-Plered, merupakan salah satu bagian pembangunan Kraton Plered saat itu. Menurut ulasan dalam SK Gubernur DIY Nomor 194/KEP/2019 berdasar sumber-sumber sejarah menyebutkan, salah satunya pada Babad Momana dijelaskan setelah tiga tahun Sunan Amangkurat I naik takhta, beliau mendirikan Masjid Kauman-Plered.

HALAMAN

Kredit

Bagikan