Masih Ada Tolak Imunisasi, Campak dan Rubella Merebak

user
Tomi Sujatmiko 05 Desember 2022, 12:43 WIB
untitled

Krjogja.com - KARANGANYAR - Kasus campak dan rubella muncul di Kecamatan Tawangmangu, Jumapolo dan sejumlah kecamatan lainnya. Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kabupaten Karanganyar masih menyisir kasusnya yang kemungkinan muncul di kabupaten lainnya.

Kemunculan campak dan rubella pada balita dikemukakan Bupati Karanganyar, Juliyatmono dalam Sosialisasi Posbindu yang menghadirkan kepala puskesmas serta camat di 17 kecamatan di ruang Podang 1 Kompleks Setda Pemkab Karanganyar, Senin (5/12). Ia menyebut kemunculan kasus tersebut ironi mengingat terdapat fasilitas kesehatan milik pemerintah dan swasta serta berbagai program imunisasi yang digulirkan. Bupati Juliyatmono meyakini orangtua balita terpapar campak dan rubella kurang teredukasi.

"Saya mendapat laporan adanya kasus campak di Tawangmangu dan Jumapolo. Kasus ini sebenarnya bisa dicegah dan diantisipasi. Pendekatan ke orangtua," katanya.

Di hadapan para kepala puskesmas, ia mengatakan kemunculan kasus rubela dan campak kurang menyukseskan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas). Ia meminta kemunculan kasus diseriusi dinas terkait.

Kepala DKK Karanganyar, Purwati mengatakan terdapat kasus rubella dan campak di sejumlah kecamatan. Tertinggi di Kecamatan Tawangmangu sebanyak 10 kasus campak dan tiga kasus rubella. Lalu tiga kasus campak di Jumapolo.
"Paling banyak di Tawangmangu. Namun kami terjunkan petugas untuk sweeping, karena kemungkinan banyak yang tidak terdeteksi oleh puskesmas," katanya.

Disebutnya, campak dan rubella merupakan penyakit yang bisa sembuh dengan sendirinya tergantung sistem imune tubuh. Gejalanya bintik pada kulit punggung, muka, belakang telinga yang diikuti demam. Penyakit itu diantisipasi dengan imunisasi campak dan rubella.

"Bulan imunisasi campak rubella kami berikan tak kurang-kurang. Di puskesmas, posyandu, di klinik, juga ke sekolah-sekolah. Masalahnya, enggak semua orangtua mau anaknya diimunisasi. Sekarang malah anaknya sakit," katanya.
Berdasarkan penyelidikan epidemologi (PE), orangtua menolak anaknya diimunisasi karena keyakinan. Mereka khawatir imunisasi tidak sesuai keyakinannya.

"Padahal imunisasi itu halal dan menyehatkan. Kita selalu beri pengertian ini. Jika ibu hamil terpapar, risiko keguguran atau anaknya lahir cacat," katanya. (Lim)

Kredit

Bagikan