Kerajinan Bambu Nitikan Gunungkidul Tembus Pasar Eropa dan Amerika

user
Ivan Aditya 07 Desember 2022, 23:11 WIB
untitled

Krjogja.com - GUNUNGKIDUL - Bambu merupakan tanaman yang mempunyai berbagai macam manfaat terutama bidang kerajinan. Kerajinan yang terbuat dari bambu ini selain dapat digunakan untuk keperluan pribadi juga dapat diperjualbelikan.

Gunungkidul termasuk dalam wilayah yang menghasilkan kerajinan bambu dan beberapa diantaranya telah masuk dalam pasar luar negeri. Salah satunya kerajinan bambu di Padukuhan Nitikan Semanu Gunungkidul.

Salah satunya yakni kerajinan bambu milik keluarga Asrofi Tegar. Ia mengungkapkan keluarganya mulai membuat kerajinan bambu sejak tahun 2002. Memanfaatkan bambu dari gunungkidul para pengrajin menyulap bilah-bilah bambu menjadi suatu karya yang unik seperti lampion, nampan bambu, berbagai souvernir pernikahan, tempat tisu dan sebagainya.

“Sebelum berdiri ayah saya sudah membantu simbah (kakek) dari tahun 1987. Kemudian pada tahun 1998 dapet orderan pertama kali yaitu tempat tisu," kata Asrofi belum lama ini.

Asrofi menambahkan, pasar produk kerajinan bambu milik keluarganya tak hanya di tanah air saja. Produk-produk kerajinan bambu dari Nitikan Semanu Gunungkidul telah tembus pasar Eropa seperti Belanda dan Spanyol bahkan hingga Amerika.

“Ini sebenarnya orderan-orderan dari PT di daerah Yogya, Kulonprogo, Sleman yang tidak dijual di lokalan namun pasar ekspor. Misalnya lampion-lampion dari bambu coil itu dijualnya ke Belanda. Dulu ada yang di Spanyol, Amerika, sama Eropa. Untuk yang sekarang kebanyakan di Belanda," ungkapnya.

Harga produk kerajinan bambu di sini cukup beragam dari mulai yang termurah hanya Rp 1.500 sampai yang termahal bisa sampai Rp 1.500.000. Karena bermain pada pasar ekspor tak jarang usaha kerajinan ini mendapat pesanan dalam jumlah banyak. Seperti pada tahun 2008 pernah menggarap orderan terbanyak yaitu mencapai 2400 pcs.

Namun disisi lain ketika musim penghujan tiba produksi menjadi terkendala karena beberapa produk harus dijemur sedangkan musim penghujan jarang ada terik matahari. Selain itu hujan membuat bambu menjadi lembab sehingga bambu mudah berjamur.

“Susah banget ketika musim hujan soalnya mau jemur bahan kerajinan jadi terkendala, harusnya tiga hari jemur. Bisa lebih lama lagi sampai semingguan akhirnya proses pengeringannya terlambat. Selain itu bambu menjadi lembab ketika hujan sehingga yang belum terkena anti jamur dapat nrucuk jamurnya dan bisa direject produknya," jelas Asrofi.

Terlepas dari semua kendala itu, ia berharap industri kerajinan bambu keluarganya dapat bermanfaat untuk masyarakat dan bisa menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar maupun yang lebih luas lagi. “Harapan saya kedepannya semoga dapat bermanfaat sebagai ladang mencari nafkah serta mengurangi angka pengangguran. Semoga bisa mengembangkan SDM masyarakat sekitar sini melalui kerajinan bambu,” pungkasnya. (Putut Al Amin)

Kredit

Bagikan