548 Kasus Terjadi di Bantul, Waspadai Potensi Bencana Alam

user
Danar W 10 Januari 2023, 16:54 WIB
untitled

Krjogja.com - BANTUL - Tahun 2023 dituntut meningkatkan kewaspadaan seiring meningkatnya intensitas curah hujan. Kondisi tersebut memicu potensi terjadinya bencana alam. Masyarakat perlu didorong selalu waspada untuk menghindari korban jiwa dan benda. Merujuk data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, tahun 2022 terjadi 548 peristiwa bencana alam.

"Ketika bicara data, tahun 2021 itu terdapat 373 kejadian bencana alam. Tahun lalu 548 peristiwa kejadian. Melihat angka itu kita harus meningkatkan kewaspadaan. Partisipasi masyarakat semua relawan sangat dibutuhkan kepeduliannya," ujar Kepala Pelaksana BPBD Bantul, Agus Yuli Herwanta, Selasa (10/1/2022).

Dijelaskan, kasus sepanjang tahun 2022 didominasi pohon tumbang, tanah bergera serta genangan air merendam lahan pertanian. Khusus peristiwa tanah longsor tahun meningkat jadi 176 titik. Padahal tahun 2021 sebanyak 103 titik. Sedang angin 12 kejadian dengan dampak pohon tumbang menimpa rumah, akses jalan tertutup.

Menurutnya, potensi ancaman bencana hidrometeorologi masih mengintai. Bahkan Pemerintah Bantul memperpanjang masa Siaga Darurat hingga 25 Maret 2023. Dengan pertimbangan perkiraaan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) DIY musim hujan bakal terjadi hingga Maret.

Agus Yuli mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Termasuk dengan gerakan membersihkan sampah penghambat air hujan, pangkas pohon yang berpotensi membahayakan.

“Kami mengimbau masyarakat terus waspada. Koordinasi dengan pemerintah kalurahan, kapanewon, FPRB, lembaga jejaring relawan harus diintensifkan," ujarnya.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana Kabupaten Bantul Waljito SH mengatakan, kasus bencana alam tahun 2022 jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. Oleh karena itu 3000 personel FPRB disiagakan untuk menghadapi segala kemungkinan. Pihaknya juga mempersiapkan relawan untuk selalu siap siaga. Kemudian menggerakkan semua relawan dalam mengawasi daerah-daerah rawan bencana alam. Sehingga ketika terjadi bencana alam, lebih cepat dan tepat dalam penanganan.

"Kami berusaha meningkatkan kapasitas atau keahlian relawan. Sehingga ketika setiap saat dibutuhkan personel sudah siap," ujarnya.

Menurut Waljito, dalam menghadapi semua potensi bencana alam di Kabupaten Bantul. Dibutuhkan kolaborasi semua pihak, mulai masyarakat, relawan, pemerintah kelurahan kapanewon hingga kabupaten. Bahkan pihaknya menginstruksikan mendirikan posko di setiap kalurahan seperti pada saat menangani Covid-19.(Roy)

Kredit

Bagikan