Mahasiswa UAD Bantu Pemurnian Tambak Garam Wonoroto Bantul

user
Agusigit 18 Januari 2023, 17:15 WIB
untitled

BANTUL - Mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan yang tergabung dalam Program Peningkatan Kapasitas Ormawa (PPKO) Internal Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan berhasil membantu warga masyarakat Desa Wonoroto, Gadingsari Sanden Bantul melakukan pemurnian garam. Desa Wonoroto sejak 2019 silam memiliki tambak garam sempat melakukan panen perdana garam kristal pada 2020 lalu. 
 
Tim PPKO HMTP UAD melakukan survei tambak garam di Padukuhan Wonoroto pada akhir 2022 lalu. Hasilnya, dari data yang didapatkan, diketahui tambak garam dengan sistem tunnel bersirip sudah tidak beroperasi selama 2 tahun terakhir dan terjadi penumpukan sebanyak 40 ton. 
 
“Penyebabnya, seturut Dukuh Wonoroto, Pak Saihuddin ternyata karena adanya pembatalan permintaan dari konsumen. Terdapat kesalahan teknis pada pemasangan sistem tunnel bersirip yang mengakibatkan kontaminasi pasir dan tanah pada garam. Akibatnya, produk garam krosok yang dihasilkan tidak layak untuk dikonsumsi dan hanya digunakan untuk pakan ternak dan sauna,” ungkap Ketua Tim, Salma Maulidya Prastiwi pada KRjogja.com, Rabu (18/1/2023). 
 
Salma mengatakan, Tim PPKO HMTP UAD berhasil melakukan pemurnian garam krosok menggunakan metode rekristalisasi, sehingga secara fisik dihasilkan garam halus dan bersih. Selanjutnya, dilakukan pengujian kandungan garam di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta yang hasilnya menyatakan kontaminasi logam dan bahan pelarut lainnya sesuai dengan kadar SNI garam konsumsi.
 
“Kami melakukan pelatihan pemurnian garam dengan metode rekristalisasi sekaligus memberikan sosialisasi terkait sertifikasi halal untuk UMKM dengan self declare dengan narasumber Ir Muhammad Mar’ie Sirajuddin kepada Kelompok Swadaya Desa yang terdiri dari karang taruna, PKK, dan ibu rumah tangga,” sambungnya. 
 
Proses pemurnian sendiri dilakukan dengan mudah sehingga masyarakat bisa melakukannya yakni melarutkan garam krosok dengan 1 liter air, kemudian difiltrasi dengan saringan tahu. Filtrat yang dihasilkan dimasak atau direbus dengan api kecil sambil diaduk hingga dihasilkan garam yang bersih dan bertekstur halus. 
 
“Garam hasil proses rekristalilasi telah dilakukan pengujian di Balai Laboratorium Kesehatan dan Kalibrasi Yogyakarta yang dihasilkan berkurangnya kontaminasi logam dan bahan pelarut lainnya hingga sesuai dengan kadar SNI garam konsumsi. Setiap 250 gram garam krosok yang dilarutkan dengan 1 liter air menghasilkan 230 gram garam murni setelah dilakukan rekristalisasi. Proses kristalisasi dengan cara perebusan air garam dilakukan untuk memisahkan asam dan kapur yang terkandung dalam garam. Saat proses perebusan, kandungan asam akan menguap sedangkan kandungan kapur akan mengeras dalam panci,” lanjutnya lagi. 
 
Mahasiswa berharap, kegiatan pengabdian masyarakat ini bisa menjadi solusi terhadap permasalahan garam krosok Padukuhan Wonoroto sehingga layak untuk dikonsumsi dan dapat dikomersilkan. 
 
“Kami berharap, garam dari Wonoroto dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menekan penggunaan garam impor di Indonesia. Semoga apa yang kami lakukan bisa membawa manfaat,” pungkasnya. (Fxh)
 
 

 

Kredit

Bagikan