Kolaborasi Memajukan UMKM, Kadin DIY Siapkan 3 Strategi

user
Agusigit 15 Februari 2023, 17:25 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Kadin DIY mendorong kolaborasi semua pihak guna memajukan UMKM. Sektor UMKM l selalu bertahan dalam menghadapi krisis ekonomi, pada masa covid sektor UMKM sangat terpukul tetapi saat ini sudah sepenuhnya beroperasi. Dalam hal ini, Kadin memiliki tiga strategi kolaborasi memajukan UMKM khususnya di DIY.

“Kadin DIY memiliki strategi kolaborasi memajukan UMKM yaitu meningkatkan kemampuan membaca selera atau tren pasar, peningkatan kemampuan literasi digital dan membangun jaringan pemasaran dalam negeri/luar negeri. Memajukan UMKM adalah tanggungjawab semua pihak: Pemerintah, Kadin/Asosiasi, lembaga perbankan, dan perguruan tinggi,” kata Wakil Ketua Umum Bidang UMKM, Koperasi dan Digital Marketing Kadin DIY, Hermawan Ardiyanto di Yogyakarta, Rabu (15/2).

Hermawan menjelaskan strategi meningkatkan kemampuan membaca selera pasar antara lain melalui program kurasi yang dilakukan oleh ahli sesuai dengan produk dan pasar yang dituju. Kemudian Business Meeting berupa interaksi langsung antara UMKM dan buyer. Selanjutnya mengikutsertakan dalam kegiatan-kegiatan pameran bekerjasama dengan pemerintah baik di dalam maupun luar negeri.

“Strategi peningkatan kemampuan literasi digital dengan mendorong UMKM untuk memanfaatkan platform-platform marketplace dan meningkatkan kemampuan UMKM atas aspek-aspek ekonomi digital,” tambahnya.

Strategi membangun jaringan pemasaran dalam negeri/luar negeri, dapat diwujudkan dengan kerjasama dengan partner yang mempunyai workshop di luar negeri (Australia, Eropa dan Amerika) sebagai sarana penjualan whole sell/direct sell. Selanjutnya, pengiriman kolektif menggunakan kontainer untuk mengurangi biaya ekspedisi serta kerjasama dengan perusahaan-perusahaan besar sebagai penjamin/asuransi

“UMKM adalah sektor yang fleksibel dan mudah beradaptasi. Jumlah UMKM sekitar 64 juta unit usaha/99% dari keseluruhan unit usaha dan menampung 97% tenaga kerja nasional serta memberikan kontribusi 60,5% atau Rp 8500 triliun terhadap PDB 2020,” tandas Hermawan.

Namun sayangnya, Hermawan mengungkapkan sebagian besar alias 71%)UMKM belum punya akses permodalan bank/non bank di 2020 berdasarkan data AFPI. Permasalahan yang masih dihadapi UMKM lainnya yakni akses pasar, produktifitas dan kualitas, penguasaan teknologi dan suplai bahan baku. Kontribusi terhadap ekspor 15,69% pada 2021. Dengan kondisi tersebut, UMKM harus didorong agar bisa naik kelas melalui berbagai upaya seperti adaptasi sistem informasi digitl, agresif di pasar domesrik, tansformasi bisnis hingga menongkatkan kemampuan permodalam.

“Upaya yang dapat dilakukan dalam beradaptasi digitalisasi UMKM seperti melakukan pelatihan untuk meningkatkan literasi digital

dan mendorong UMKM memanfaatkan sistem IT terintegrasi. UMKM juga harus agresif baik di pasar domestik dan internasional dengan aktif mengikuti pameran dan bisnis kontak maupun fasilitasi market channeling melalui bisnis meeting, fasilitasi ekspor,” terangnya.

Lebih lanjut, Hermawan menyatakan UMKM perlu bertransformasi bisnis dengan meningkatkan kemampuan SDM serta kualitas, kuantitas dan standar produk (Mekanisasi dan otomasi). Tidak kalah pentingnya, meningkatkan kemampuan permodalan, akses fasilitas pendanaan UMKM Bank/Non Bank, secara tidak langsung akan memperbaiki sistem keuangan usaha. (Ira)

Kredit

Bagikan