Bahasa Jawa Saka Guru Penyesuaian Masyarakat Terhadap Perkembangan Iptek

user
Ivan Aditya 13 Maret 2023, 20:54 WIB
untitled

Krjogja.com - YOGYA - Bahasa Ibu merupakan bahasa pertama yang dipelajari oleh setiap individu sejak lahir. Untuk itu melestarikan bahasa ibu menjadi penting dalam mempertahankan identitas dan kekayaan budaya suatu bangsa.

Begitu pula halnya dengan bahasa Jawa. Dalam sejarahnya bahasa Jawa menjadi bahasa resmi pada masa kerajaan Majapahit.

Pada masa itu banyak karya sastra, naskah, dan dokumen penting yang ditulis dalam bahasa Jawa. Bahasa Jawa pada masa itu sudah mampu mengungkapkan konsep-konsep ilmiah, seperti tata surya dan astronomi.

Saat ini seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek), banyak kosa kata dan istilah bahasa Jawa yang sudah tidak sesuai. Hal ini dikarenakan banyak produk lokal kita yang telah menggunakan teknologi Barat lengkap dengan nama dan istilahnya. Dengan demikian bahasa Jawa menjadi keinggris-Inggrisan.

Untuk menanggapi hal itu, Balai Bahasa Provinsi DIY bekerja sama dengan Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Seminar Nasional Hari Bahasa Ibu Internasional dengan tema 'Bahasa Jawa sebagai Saka Guru Penyesuaian Masyarakat terhadap Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dan Arus Budaya Lokal'.

Kegiatan seminar tersebut berlangsung di Karaton Kilen (kediaman Sri Sultan HB X), Yogya, Senin (13/03/2023). Menghadirkan dua nara sumber yaitu GKR Hemas (sekaligus membuka seminar).

Memaparkan materi, ' Bahasa Jawa dalam Perkembangan Iptek dan Produk Budaya Lokal'. Narasumber lainnya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa E Aminudin Aziz. Ia mengusung materi, 'Upaya Pemerintah Pusat dalam Pelestarian dan Perlindungan Bahasa Daerah yang Selaras dengan Perkembangan Iptek'. Pemaparan materi kedua narasumber tersebut dimoderatori Kepala Balai Bahasa Provinsi DIY, Dwi Pratiwi.

"Saya bukan ahli bahasa, tapi saya memang pelaku bahasa aktif, apalagi dikaitan dengan bahasa Jawa. Jadi saya kira ada banyak ilmu pengetahuan yang harus saya bagikan untuk semua. Definisi mengenai Iftek bukan hanya mencakup ilmu robotika, komputer, pesawat luar angkasa atau fisika dan quantum. Iptek juga mencakup ilmu sosial, ilmu kebudayaan, llmu bahasa yang juga selalu berkembang," tutur GKR Hemas yang juga anggota DPD RI tersebut.

Menurut GKR Hemas, bahasa ibu dapat kita pahami dari kedua pendapat yaitu ada bahasa ibu dan bahasa suku atau etnis dari orang tua yang bersangkutan. Ada juga yang mengatakan bahasa yang digunakan sehari-hari di rumah pada masa perkembangan anak sampai dewasa, tanpa memandang etnis atau sukunya.

"Jadi bila ada mahasiswa etnis Tionghoa yang sejak kecil hingga dewasa sudah menggunakan bahasa Jawa. Maka dapat dikatakan bahasa Ibu dari mahasiswa itu adalah bahasa Jawa dan ini akan mempengaruhi ikatan etnis budaya dari individu yang bersangkutan," papar GKR Hemas.

Lebih lanjut dikatakan, apa yang sudah dikembangkan bahasa Jawa bagi pengembangan Iptek dan kebudayaan kita sangat banyak, untuk Diaspora dan hubungan luar negeri Indonesia.

"Indonesia memiliki 718 bahasa daerah, penutur bahasa Jawa mencapai 80 juta orang. Bahasa jawa tersebar di seluruh pulau Jawa terutama di wilayah tengah, timur dan bahasa Jawa juga tersebatr di Sumatera, Kalimantan dan daerah lainnya. Hal yang lebih penting lagi di luar negeri terdapat pula pinutur bahasa Jawa seperti di Suriname, Kalidonia Baru, Malaysia dan Singapura," pungkasnya. (Rar)

Kredit

Bagikan