Potensi Glukomanan, Pangan Fungsional Harga Jutaan

Editor: KRjogja/Gus

Porang (Amorphopallus oncophillus) merupakan jenis umbi-umbian yang sudah lama tumbuh liar dan dianggap sebagai pakan ular karena warna batang tanaman porang menyerupai kulit ular. Tanaman porang awalnya dihindari untuk diolah karena getahnya dapat membuat gatal dan perih seperti ditusuk-tusuk. Namun siapa sangka, saat ini porang justru digadang-gadang sebagai komoditi unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekspor tinggi. Porang memiliki potensi yang sangat lebar untuk diekspor dan menjanjikan untuk dikembangkan di pasar Internasional.

Tanaman porang saat ini mulai dibudidayakan oleh petani di berbagai daerah seperti Gunungkidul, Pasuruan, Madiun, Wonogiri, Bandung dan Maros. Menurut data pertanian.go.id, Umbi porang dijual dengan harga Rp4.000/kg dan olahan porang siap ekspor di jual dengan harga Rp14.000/kg. Porang yang diekspor biasanya dalam bentuk chips atau tepung porang. Selanjutnya, oleh negara pengimpor, chips porang atau tepung porang di ekstraksi menghasilkan glukomanan yang dijual kembali ke Indonesia menjadi ±1.950.000/kg.

Berdasarkan data IQFAST (Indonesia Quarantine Full Automation System Badan Karantina Pertanian) Kementerian Pertanian (Barantan) pada tahun 2019 periode Januari hingga juli ekspor porang mencapai 5,7 ribu ton sedangkan pada periode yang sama tahun 2020 ekspor porang menjadi 14,8 ribu ton atau mengalami kenaikan lebih dari 100% dengan tujuan ekspor pada negara China, Vietnam dan Thailand. Kenaikan ekspor porang pada tahun 2020 juga menyumbang kenaikan ekspor pertanian nasional. Seusai Badan Pusat Statistik (BPS), periode Januari hingga Juli, tahun 2020 ekspor pertanian nasional naik 9,6% dibanding tahun 2019.

Tanaman porang memiliki waktu tanam yang cukup lama, yaitu penanaman satu sampai dua tahun untuk mendapatkan umbi porang yang memiliki kandungan glukomanan dan serat pangan tinggi untuk manfaat kesehatan. Glukomanan atau secara komerisl dikenal dengan nama Konjac Glucomannan (KGM) bersifat hidrokoloid kuat, dapat membentuk gel, berviskositas tinggi, rendah kalori, bebas gandum atau gluten, tembus pandang, tidak berbau, dan dianggap sebagai pangan fungsional. Berbagai industri memanfaatkan glukomanan sebagai bahan campuran pada olahan makanan. Walaupun tidak memiliki nilai gizi yang dibutuhkan tubuh, namun serat pangan ini memiliki manfaat kesehatan yaitu digunakan sebagai penurun kolesterol, mengontrol kegemukan, dan sebagai prebiotik. Di bidang pangan, glukomanan digunakan sebagai bahan shirataki, pengental sirup, jelly, bahan pengikat kecap, dan konyaku. sedangkan bidang Industri non pangan, glukomanan digunakan sebagai edible film, bahan perekat, isolasi, cat, kosmtetik, dan lain-lain.

BERITA REKOMENDASI