7-Eleven Bangkrut, Pemerintah Tak Sensitif?

JAKARTA, KRJOGJA.com – Keputusan 7-Eleven untuk tidak melanjutkan bisnisnya di Indonesia cukup mengejutkan banyak pihak. Pasalnya, 7-Eleven merupakan industri retail dengan inovasi bisnis yang juga ditiru oleh beberapa gerai retail lainnya. 

Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mande mengatakan, bangkrutnya 7-Eleven ini bukan hanya disebabkan oleh persoalan internal perusahaan. Menurutnya, hal ini lebih disebabkan karena sektor eksternal, yaitu aturan yang berlaku di Indonesia.

"Jadi bukan hanya internal. Juga ada faktor eksternal yang menyebabkannya," kata Roy kepada Okezone. Menurut Roy, selama ini komunikasi telah berjalan cukup intensif sebelum 7-Eleven memutuskan untuk menutup seluruh gerainya pada 30 Juni. "Jadi mereka katakan ada kendala seperti aturan untuk ekspansi bisnis," ujarnya. 

Aprindo pun menilai bahwa pemerintah tidak cukup sensitif untuk membantu pengusaha mengembangkan industri retail di Indonesia. Padahal, dalam dua tahun terakhir ini industri retail di Indonesia tengah mengalami keterpurukan. "Jadi ini masalah sensitivitas," jelasnya. 

Salah satu aturan yang disoroti oleh Aprindo adalah terbatasnya ruang gerak investor asing pada industri retail di Indonesia. Pemerintah pun diharapkan dapat memberikan ruang gerak yang lebih besar sehingga industri retail dapat berkembang pesat sebagai motor pertumbuhan ekonomi Indonesia. (*)

BERITA REKOMENDASI