Berkat Janda Bolong Pengusaha ini Tetap Eksis di Masa Pandemi Covid-19

Masa emas bisnis harus berakhir di awal tahun 2020. Tepatnya di akhir Februari akibat hantaman pandemi Covid-19. Tamu ke Goa Pindul hampir tidak ada, pesanan yang masuk satu persatu dibatalkan dan armada harus parkir di garasi. Kondisi serupa dialami beberapa operator sampai akhirnya Pemkab Gunungkidul menutup sementara obwis yang sudah kesohor di penjuru Indonesia. Namun, dapur harus tetap mengebul. Bayangan kerugian sudah dimata Yudan dan beberapa rekan bisnisnya.

“Bisnis terhenti total, namun harus kreatif untuk mencari alternatif. Akhirnya ketemu ide untuk menjual kembang (bunga) dan tanaman hias lainnya. Apalagi, Kakak menjadi pemain lama di sektor ini. Namun, hanya ikut menjual produk punya kakak saja,” imbuh Yudan.

Yudan mengaku sebelum pandemi sempat membantu kakaknya berjualan berbagai jenis tanaman hias melalui media sosialnya. Namun, akhirnya memutuskan untuk berjualan sendiri. Beruntung, istri tercintanya Rita Bekti Utami merupakan lulusan Magister Biologi Universitas Negeri Yogyakarta ,(UNY) sehingga mengetahui seluk beluk tentang dunia tanaman hias. Perlahan tapi pasti, beberapa tanaman hias coba ditawarkan, termasuk yang menjadi trend. Adapun harga yang ditawarkan cukup bervariasi dimulai dari Rp10.000. Untuk menambah keindahan, tanaman diberikan pot atau batu dan tentu saja dengan media tan agar tetap sehat.

“Lewat Instagram @kaktuspilihan mulai menawarkan aneka tanaman hias di awal Maret dengan harga ekonomis. Alhamdulillah respons rekan sejawat dan masyarakat sangat positif. Bahkan, beberapa kolektor ada yang memesan tanaman jenis tertentu dan lagi hits. Kami terkadang harus memburu sampai keluar kota atau janjian untuk mengantarkan pesanan pembeli,” katanya.

Pembeli, kata Yudan selain lewat medsos, ada juga yang langsung datang di rumahnya. Namun, karena Covid-19 tentu saja mengikuti protokol kesehatan seperti menyediakan fasilitas cuci tangan, Thermo gun sampai wajib menerapkan menggunakan masker atau face shield. Bahkan, harus membatasi jumlah pembeli yang datang sesuai janjian. Yudan dan istri juga memanfaatkan sunday morning (Sunmor) di Alun-Alun Wonosari setiap akhir pekan.

“Bisa dibilang bisnis bunga dan tanaman hias lebih cepat berkembang. Kami mendatangkan kembang dari Bandungan Kabupaten Semarang, Bandung Jabar dan Malang. Kami juga membeli langsung koleksi milik pelanggan,” kata Yudan.

Dalam bisnis barunya ini, Dia membidik pasar atau orang yang ingin membenahi rumahnya atau orang yang ingin tetap berkegiatan di rumah selama pandemi. Karena itu, tidak terbatas usia atau jenis kelamin.

“Semua baik pria atau wanita pasti suka bunga. Bunga itu memiliki ketenangan dann perasaan lain bila memandangnya. Apalagi jenis tanaman hias saat ini sangat beragam dan mudah viralnya. untuk tiga bulan ke depan bisnis ini akan tetap harum,” paparnya.

Mengenai jenis tanaman yang laku keras, Yudan menjelaskan berbagai jenis. Misalnya janda bolong, aglonema dan pilodendro. Bahkan, mampu menjual tanaman janda bolong ke kolektor di Kalimantan seharga Rp4 jutaan dan jenis pilow dengan banderol Rp 3 jutaan. Namun, tetap berharap badai Covid-19 bisa berakhir dsn ditemukan vaksinnya. Termasuk aktivitas di Goa Pindul meski saat ini dibuka secara terbatas.

 


“Protokol kesehatan tetap dipatuhi. Saya berharap semua bisa pulih lagi. Namun, ada yang bisa dipetik saat Covid-19 ini yaitu penggunaan digital untuk memasarkan produk dan kembali mencintai alam yang telah banyak memberikan kehidupan bagi warga seperti di Goa Pindul, ” tandasnya. (Tom)

BERITA REKOMENDASI