Bisnis Titip Barang Lewat Penumpang Pesawat Perlu Regulasi

JAKARTA.KRJOGJA.com – Bisnis penitipan barang melalui penumpang pesawat udara kini sedang berkembang di Indonesia. Pemerintah melalui Kemenhub tengah menghimpun masukan dari berbagai stakeholders untuk membuat regulasinya, terutama dalam aspek keamanan dan keselamatan penerbangan.

Saat ini, di Indonesia terdapat Tips dan Triplogic sebagai startup yang menghubungkan antar stakeholders melalui online platform terkait penanganan bagasi tercatat. Model bisnis ini memanfaatkan ruang bagasi tercatat penumpang pesawat udara yang tidak terpakai.

"Kita wajib mengantisipasi dampak keamanan dan keselamatan yang timbul apabila peluang bisnis ini dimanfaatkan pihak yang tidak bertanggungjawab,” kata Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Perhubungan (Balitbanghub), Rosita Sinaga saat membuka Focus Group Discussion Pengawasan Keamanan Terhadap Pemanfaatan Ruang Bagasi Tercatat Penumpang Pesawat Udara yang tidak terpakai, di Jakarta, Rabu (5/9/2018).

Rosita yang mewakili Kepala Balitbanghub, Sugihardjo menegaskan, diperlukan sinergi para pihak terkait serta pengaturan aspek regulasi untuk mencegah timbulnya permasalahan keamanan di kemudian hari. “Pemerintah fokus pada aspek keamanan, keselamatan, aspek legal, bisnis dan operasional,” ujarnya.

Rosita mengatakan, industri penerbangan di Indonesia yang terus mengalami peningkatan ini tidak hanya memberikan pelayanan untuk mobilitas penumpang tetapi juga pengangkutan barang. Pesawat udara didorong dapat memaksimalkan fungsinya sebagai alat pengangkutan dengan memanfaatkan utilisasi ruang pesawat udara agar tidak kosong.

"Pengangkutan yang efisien dan efektif akan mendukung percepatan konektivitas antar wilayah di Indonesia bahkan keterhubungan yang lancar dan cepat dengan negara lain,” jelas Rosita.

Menurut Rosita, sebagai bagian dari pelayanan transportasi udara, maskapai penerbangan komersial berjadwal di Indonesia memberikan fasilitas bagasi tercatat (baggage allowance) yang dapat dimanfaatkan oleh penumpang. Namun, berdasarkan analisis dari data statistik Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tahun 2017, pengangkutan bagasi tercatat di Indonesia masih rendah yaitu sekitar 38% yang baru termanfaatkan.

Kondisi tersebut memunculkan suatu peluang bisnis yang dimanfaatkan langsung oleh maskapai penerbangan maupun masyarakat pengguna transportasi udara. Maskapai penerbangan memanfaatkan kekosongan ruang belly (perut) pesawat udara untuk pengangkutan kargo tambahan, sedangkan penumpang pesawat udara yang tidak membawa bagasi tercatat apabila bersedia, bisa membawakan barang orang lain setelah dipastikan barang tersebut secure (aman).

Peluang pemanfaatan ruang bagasi tercatat pesawat udara tersebut juga dibaca oleh para pelaku usaha. Seiring perkembangan zaman, para pelaku usaha membangun bisnis yang disesuaikan dengan evolusi teknologi dan gaya hidup masyarakat modern melalui penggunaan digitalisasi dan big data.

"Transformasi digital dengan diiringi berbagai inovasi dan ide-ide bisnis yang lebih dinamis dalam memenuhi keberagaman kebutuhan market menandai munculnya suatu era baru yang dikenal dengan disruptive,” jelas Rosita. 

Rosita menambahkan, dengan memperhatikan dinamika perkembangan teknologi informasi tersebut, apalagi memasuki revolusi industry 4.0, maka perusahaan startup yang memanfaatkan kapasitas idle (kosong) bagasi penumpang tidak dapat dihindari. Disamping bermanfaat bagi para pihak baik penumpang, pengirim barang dan pelaku startup, juga perkembangan ini bermanfaat bagi ekonomi nasional karena distribusi logistik barang tertentu (perishable goods) dapat terdistribusi lebih cepat dengan biaya lebih murah. (Imd).

BERITA REKOMENDASI