‘BLANGKON’ Menembus Desa dan Memberdayakan Pelaku Usaha

YOGYA, KRJOGJA.com – Salah satu upaya menumbuhkan desa sebagai pusat pertumbuhan adalah melalui optimalisasi semangat enterpreneur spirit pada wilayah pedesaan. Melalui, konsep desa preneur, Pemda DIY berusaha menumbuhkan perekonomian skala pedesaan melalui pengembangan potensi lokal. Desa Preneur sendiri pada dasarnya, merupakan desa yang memiliki kemampuan menumbuhkan unit-unit usaha skala desa, yang diusahakan warga desa itu sendiri melalui penguatan pengetahuan dan keterampilan berwirausaha, peningkatan mutu produk atau jasa, nilai tambah dan daya saing. Tujuannya meningkatkan perekonomian desa dan tercapainya kesejahteraan hidup warga.

Desa Preneur sudah dijalankan Pemda DIY melalui Dinas Koperasi dan UKM sejak 2016 dengan berbagai model pendekatan pada berbagai desa atau kalurahan.  Mulai 2021, terdapat tambahan model pendekatan tambahan yaitu BLANGKON yang dijalankan Satoeasa Untuk Indonesia, melalui konseptornya yang bernama Imam Syafii. Ia merupakan salah satu tokoh muda yang intens dalam pendampingan UMKM dan pernah berkiprah sebagai pendamping UMKM di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Dinas Koperasi UKM DIY.

Blangkon sendiri merupakan tutup kepala yang dibuat dari kain batik dan digunakan kaum pria sebagai bagian dari pakaian tradisional Jawa. Dalam konteks program pengembangan desa preneur model pendampingan bisnis produk unggulan lokal melalui konsep Blangkon, entitas usaha di desa dalam hal ini pelaku UMKM merupakan jagad alit yang harus mampu menunjukan eksistensinya dan mampu bersaing ke jagad besar (pasar global).

Menurut Imam,untuk mewujudkan produk lokal desa agar mampu bersaing di tataran global tentu dibutuhkan upaya bersama secara komunal. “Baik para pelaku usaha langsung yang ada di desa, pemerintah desa, BUMDES, Koperasi, komunitas lokal desa, maupun stakeholder berkepentingan yang ada,” terang Imam.

BERITA REKOMENDASI