Budidaya Sorgum Digalakkan Lagi, Ternyata ada Lima Manfaat Bila Mengkonsumsinya

SORGUM atau tebon atau Cantel diperkenalkan kembali kepada kelompok tani di Karangmojo, Panggang, Purwosari  Gunungkidul serta di Cangkringan, Sleman. Padahal, selama ini tanaman pangan ini mulai ditinggalkan para petani. Ternyata, ada beberapa hal dan fakta mengenai tanaman pangan ini. Berikut penjelasan selengkapnya:

1. Makan Sorgum Dianggap Kelas 2

“Di kantong-kantong petani lahan kering Daerah Istimewa Yogyakarta sesungguhnya masyarakat sudah sangat mengenal sorgum yang sering disebut tebon atau cantel sebagai makanan pokok di masa lalu. Namun seiring dengan adanya proyek Insus padi berbagai varietas di masa lalu, maka makan sorgum dianggap masyarakat kelas dua (tidak berkelas)”

kata Sudaryanto dari Sekretariat Low Carbon Development Indonesia (LCDI) Kementerian PPN/Bappenas kepada KR di Jakarta, Senin (23/3/2020).

Pertumbuhan populasi penduduk dan perubahan gaya hidup masyarakat, terangnya, menjadikan kebutuhan pangan tidak dapat dipenuhi dari pangan lokal. Media elektonik dan cetak serta media sosial juga berperan mengubah pandangan masyarakat mengenai makanan dari kebutuhan pokok menjadi gaya hidup.

“Dampak selanjutnya terjadinya impor bahan pangan besar-besaran tanpa mempertimbangkan adanya pangan lokal yang berkualitas sama bahkan lebih baik terpinggirkan bahkan ditinggalkan,” tuturnya.

Namun seiring dengan adanya proyek Insus padi berbagai varietas di masa lalu, maka makan sorgum dianggap masyarakat kelas dua (tidak berkelas).

“Apalagi ada anggapan bahwa selain makan beras, masyarakat tidak sehat. Faktanya di Gunungkidul misalnya masyarakat yang makan sorgum, singkong, jagung di masa kecil, seperti saya contohnya, sampai saat ini tetap sehat. Artinya anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar,” terang Sudaryanto.

Lebih lanjut Sudaryanto mengatakan, pertumbuhan penduduk di perkotaan meningkat dengan gaya hidup mengonsumsi makanan berbahan tepung. Gaya hidup tersebut sudah masuk ke pelosok.

Impor tepung dan gula putih semakin meningkat dari tahun ke tahun karena pertumbuhan penduduk dan gaya hidup. Di sisi lain, kesehatan masyarakat disinyalir menurun dengan semakin banyaknya penderita diabetes.

Biaya rumah sakit meningkat karena dibetes adalah pintu masuk berbagai penyakit. “Dahulu diabetes sebagian besar diperoleh karena faktor keturunan, namun sekarang penyakit tersebut lebih banyak terjadi akibat gaya hidup mengkonsumsi karbohidrat dan gula melebihi kebutuhan tubuh,” lanjutnya.

BERITA REKOMENDASI