BUMN dan Swasta Bermasalah, Bisnis Kontruksi Suram

JAKARTA, KRJOGJA.com – Masa depan bisnis konstruksi di Indonesia dinilai suram karena pelaku usaha swasta dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN)  dihadapkan pada masalah masing-masing yang sama-sama berat.
Menurut Ekonom Lingkar Studi Perjuangan Gede Sandra di Jakarta, Rabu (28/03/2018)kontraktor swasta  tertekan oleh dominasi BUMN. Sementara BUMN terancam oleh jeratan utang yang mereka bikin selama ini.
 
Gede Sandra mengutip laporan Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi), bahwa ada 37 ribu kontraktor swasta bangkrut akibat dominasi BUMN di proyek infrastruktur. Kontraktor swasta kerap tidak mendapat order. "Ketika menjadi subkontraktor BUMN, mereka terlambat dibayar. Kabarnya malah ada yang tidak dibayar. Dominasi BUMN dalam proyek infrastruktur senilai Rp 4,197 triliun memang amat menyolok. Bahkan dalam proses lelang, swasta kerap tak diajak," kata Gede Sandra.
 
Dia mencontohkan dalam proyek pembangunan Bandara Internasional  Yogyakarta di Kulonprogo yang diselenggarakan PT Angkasa Pura I hanya 10 perusahaan yang diundang lelang. Bahkan semuanya BUMN: Perum Perumnas, Adhi Karya, Amarta Karya, Brantas Abipraya, Hutama Karya, Istaka Karya, Pembangunan Perumahan, Waskita Karya, Wijaya Karya, dan Nindya Karya. Nilai proyek mencapai Rp 6,5 triliun (termasuk PPN).
 
Dia menambahkan dalam pembangunan 65 bendungan di seluruh Indonesia, sepanjang 2015-2019, BUMN juga menyapu bersih seluruh proyek. Nilai proyek Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat itu mencapai Rp 29 triliun rupiah.   "Di setiap lelang, tak kurang 50 perusahaaan swasta turut ikut. Tapi mereka hanya menjadi penggembira."
 
Namun, kata Gede Sandra BUMN juga dililit problem serius. Memburuknya kinerja saham empat BUMN kontruksi di pasar modal—Adhi Karya, Wijaya Karya, Waskita Karya, dan Pembangunan Perumahan– menunjukan adanya masalah. Selama Maret 2018, nilai saham BUMN konstruksi  jatuh 12%. Di sepanjang tahun 2017, harga saham BUMN sudah merosot rata-rata 13,70%.
 
Lembaga pemeringkat Standard and Poor’s (S&P), seperti dikutip Reuters, menyatakan,  neraca keuangan BUMN konstruksi sangat lemah. Tingkat utang terhadap pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA), naik 500%. Total utang empat BUMN konstruksi mencapai Rp 156,19 triliun pada 2017. "Awasi, jangan sampai persoalan di bisnis konstruksi melebar dan berdampak sistemik,” kata Gede Sandra. (Ati)

BERITA REKOMENDASI