Dibalik Bangkitnya Taru Martani, Rela Kenakan Kaos untuk Hilangkan Sekat

YOGYA , KRjogja.com – Membaur dengan pekerja membawa manfaat yang luar biasa dalam mendongkrak kinerja usaha, yang pada akhirnya berujung pada peningkatkan omset. Karena itu, menghilangkan sekat antara pekerja dengan pimpinan menjadi salah satu kuncinya.

“Saya mendapat manfaat ketika hari-hari menjalankan usaha, selalu bersama pekerja. Ikut dalam proses produksi. Mengetahui persoalan yang terjadi, sekaligus memberikan motivasi langsung kepada pekerja,” ungkap Direktur PT Taru Martani, Drs Nur Achmad Affandi MBA , Sabtu (11/9) ketika ditanyakan mengenai apa yang sudah dilakukan sehingga terjadi lompatan kinerja salah satu  Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DIY yang memproduksi cerutu tersebut.

Menurut Nur Achmad, salah satu upaya tersebut dengan menghilangkan sekat. Yakni membiasakan pakaian yang digunakan seperti para pekerja di pabrik. “Makanya saya lebih rela pakai kaos, untuk kemudian ikut produksi, biar bisa langsung memantaunya. Dari awal datang, ikut kerja. Kata anak-anak (pekerja, red), bikin semangat. Ibaratnya, jarum jatuh bapak tahu,” ujar mantan Ketua Kadin DIY

Strategi jarang menggunakan pakaian berdasi ketika meninjau proses produksi membuahkan hasil. Dirinya menjadi mengetahui persoalan yang dihadapi dari dalam perusahaan, sehingga kemudian dianalisis untuk mencari langkah-langkah untuk melakukan perbaikan.

Nur Achmad diangkat oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X  pada 28 Februari 2018, dengan harapan mampu membawa Taru Martani berkinerja lebih baik. Sebelumnya,  produk cerutu dianggap kurang prospek.  Namun setelah melakukan pendalaman dan melakukan pemetaan, memperbaiki kualitas produksi, Taru Martani kini telah bangkit kembali. Tahun 2017, produksinya hanya 58 ton. Namun pada tahun 2018, naik menjadi 80 ton. “Di  tahun 2019, setelah perbaikan kualitas produksi, melakukan pameran di Dubai, hasilnya terjadi peningkatan permintaan dan kemudian produksi meningkat menjadi 130 ton,” ujar mantan Pimpinan DPRD DIY.

Permintaan terus meningkat meski pandemi datang. Tahun 2020, produksi naik tajam sebanyak 240 ton. “Produksi sebanyak ini, jika dipertahankan sudah bagus.  Dengan peningkatan produksi yang luar biasa ini, selain meningkatkan setoran laba yang signifikan ke Pemda DIY, juga kian mensejahterakan perkerja. Selain mendapat gaji bulanan 12 kali, dan THR 1 kali, pekerja  juga mendapat tambahan gaji 2 kali sebagai insentif atas peningkatan omset dari hasil kerja dan perjuangan mereka,” ujar Nur Achmad.

Kenaikan omset ini ikut menguntungkan Koperasi Karyawan. Karena koperasi menjadi salah satu distributornya. “Omset koperasi menjadi Rp 11 miliar, dan raihan SHU mencapai Rp 1 miliar,” katanya.

Saat ini Taru Martani mendapat penugasan oleh Gubernur DIY untuk mengelola cadangn pangan. Untuk menjalankan amanah tersebut, menggandeng 9  Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang tersebar di Kabupaten Bantul, Kulonprogo dan Gunungkidul. (Jon)

BERITA REKOMENDASI