DIY Surplus, Nilai Ekspor Tetap Naik, Sebaliknya Impor Turun

YOGYA, KRJOGJA.com – Nilai ekspor DIY mencapai USD 48,7 juta pada Oktober 2021 yang naik 6,56 persen dibanding bulan sebelumnya, sebaliknya impor senilai USD 11,8 juta justru turun 7,09 persen. Secara kumulatif, nilai ekspor DIY Januari hingga Oktober 2021 mencapai USD 437,2 juta atau naik 37,01 persen maupun nilai impor mencapai US$124,6 juta atau naik 31,57 persen dibanding periode yang sama 2020. Neraca perdagangan DIY Oktober 2021 mengalami surplus USD 36,9 juta pada Oktober 2021 dan USD 312,6 juta secara kumulatif Januari sampai Oktober 2021.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Sugeng Arianto menyatakan nilai ekspor DIY Oktober 2021 mencapai US$48,7 juta yang dibanding Oktober 2020 nilai ekspor naik sebesar 17,35 persen. Ekspor Oktober 2021 terbesar adalah ke Amerika Serikat (AS) USD 22,2 juta, disusul Australia USD 4,2 juta dan Jepang USD 3,4 juta dengan kontribusi ketiganya mencapai 61,19 persen. Sementara ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa masing-masing sebesar USD 1,1 juta dan USD 11,1 juta.

“Peningkatan terbesar ekspor Oktober 2021 terhadap September 2021 terjadi pada pakaian jadi bukan rajutan sebesar USD 2,7 juta atau 20,61 persen. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada kertas/karton USD 1,1 juta atau 37,93 persen,” paparnya di Yogyakarta, Kamis (2/12/2021).

Sugeng menyampaikan ekspor hasil sektor industri pengolahan secara kumulatif naik 37,27 persen dibanding periode yang sama 2020, Sedangkan ekspor hasil pertanian naik 12,12 persen. Menurut provinsi pengiriman barang, ekspor DIY pada Oktober 2021 dikirim melalui Jawa Tengah (Jateng) dengan nilai USD 26,5 juta atau 54,41 persen, DKI Jakarta USD 20,0 juta atau 41,07 persen dan Jawa Timur (Jatim) USD 2,2 juta atau 4,52 persen.

“Nilai impor DIY Oktober 2021 mencapai USD 11,8 juta yang naik 35,63 persen dibandingkan Oktober 2020. Tiga negara pemasok barang impor terbesar yaitu China USD 3,6 juta, disusul Hongkong USD 2,4 juta dan Taiwan USD 1,9 juta. Sementara tiga negara pemasok barang impor terbesar secara kumulatif yakni China USD 36,2 juta atau 29,05 persen, Hongkong USD 27,3 juta atau 21,91 persen dan AS USD 13,8 juta atau 11,08 persen,” terangnya.

Lebih lanjut, dijelaskannya tiga besar kelompok komoditas impor adalah filamen buatan USD 2,7 juta, Kain rajutan USD 1,6 juta dan kain tenunan khusus USD 1,0 juta. Peningkatan impor golongan barang terbesar Oktober 2021 dibandingkan September 2021 adalah mesin-mesin/pesawat mekanik USD 0,4 juta atau 133,33 persen dan penurunan terbesar adalah kapas gumpalan, tali USD 0,4 juta atau 36,36 persen.

“Dari golongan penggunaan barang, nilai impor kumulatif terhadap periode yang sama tahun sebelumnya terjadi penurunan pada barang konsumsi 23,75 persen. Sedangkan peningkatan terjadi pada bahan baku/penolong 41,40 persen dan barang modal 67,44 persen,” pungkasnya. (Ira)

BERITA REKOMENDASI