Hadapi Teknologi Digital, Industri Grafika Cari Terobosan

YOGYA, KRjogja.com- Industri grafika mengalami tekanan cukup besar seiring kemajuan teknologi digital. Agar dapat mengatasi tekanan, perlu mencari terobosan sehingga permintaan tetap terjaga dan industri dapat bertahan. “Sudah banyak para relasi beralih ke digital. Termasuk pemerintah. Sedangkan barang cetakan pemerintah yang tidak beralih ke digital, seperti buku agenda, kalender, formulir pendataan, rekam medis dan lainnya,” ujar Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia (PPGI) DIY Emir Nuswantoro,  Minggu (7/11) menanggapi perkembangan dunia digital yang berdampak pada industri grafika.

Emir mencontohkan produksi yang kini sudah banyak beralih ke digital seperti buku rapor, laporan SPT pajak, rapor SD/SMP/SMA dan buku pelajaran. “Seperti rapor, formatnya sudah berupa data digital. Murid hanya dibuatkan print out 1 lembar saja,” ujarnya.

Dijelaskan, perubahan besar ke era digital baru 5 tahun terakhir, namun telah memberikan tekanan yang luar biasa kepada industri grafika. Karena itu, terobosan baru sangat penting. Meski jenis yang diproduksi tidak banyak, tetapi stabil dan rutin.

Persoalan tekanan di industri grafika juga didiskusikan dengan Ketua Umum DPP PPGI Mughira Nurhani yang melakukan kunjungan ke Yogyakarta. Mughi, pangggilan akrab Mughira Nurhani yang juga menjabat CEO PT Intermasa juga melakukan konsolidasi organisasi menjelang akan dilaksanakannya Kongres PPGI pada 9 Desember mendatang.
Pada kesempatan ini, Mughi bertemu jajaran DPD PPGI DIY antara lain Haryawan Emir Nuswantoro, Candra Rudi (CEO Liana Sanjaya Abadi), Roni Sugiarto (CEO Centra Grafinfo), Latief Baedhowi (PPGI DIY) dan R. Syarif Tholib (penasihat).

Mughi diajak  Emir mengunjungi percetakan yang saat ini tetap eksis di era digital, yakni milik persyarikatan Muhammadiyah, Gramasurya di kawasan Sonopakis Wetan Ngestiharjo Bantul. Kunjungan diterima Direksi Latief Baedhowi. Menurut Latief, percetakan yg dipimpinnya dalam kondisi stabil berproduksi melayani kebutuhan internal persyarikatan dan Kementerian. Latief tetap optimis bahwa industri Grafika yang dipimpinnya tetap eksis dan punya pasar. (Jon)

BERITA REKOMENDASI