Hipo Memperkuat Pasar Online dan Domestik, Meningkatkan Ekspor UMKM

Editor: Ivan Aditya

SLEMAN, KRJOGJA.com – Keberadaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di tanah air terus berkembang pesat. Namun sayangnya produk-produk UMKM masih banyak yang bermain di pasar lokal dan masih sedikit yang berorientasi ekspor. Padahal jika digarap dengan benar pangsa ekspor produk-produk UMKM masih sangat terbuka.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) pada tahun 2018 menembus angka Rp 4,728 triliun dengan tenaga kerja yang terserap sebanyak 116,673 juta orang. Sedangkan kontribusi usaha besar terhadap PDB mencapai Rp 5,136 triliun, dari jumlah tersebut mampu menyerap tenaga kerja 3,587 juta orang.

"Ini artinya perkembangan UMKM sangat menjanjikan di tanah air. Selain memberikan kontribusi bagi negara, keberadaan UMKM juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat," terang Ketua DPD Himpunan Pengusaha Online (Hipo) Internasional DIY, Endar Budi Setyono ST MM dalam seminar bertema 'Perkuat Pasar Online, Pasar Domestik dan Ekspor UMKM Indonesia' yang digelar di Cengkir Heritage Sleman, Senin (23/12/2019).

Endar Budi Setyono mengatakan, persoalan pemasaran produk hingga saat ini menjadi kendala utama dalam dunia UMKM. Walau produk itu bagus, namun tanpa didukung dengan kekuatan pemasaran yang baik maka pembeli maupun pasar tak akan melihatnya.

Para pelaku UMKM menurut Endar Budi Setyono harus memanfaat pasar online untuk mengenalkan produk-produknya, apalagi jika pangsa yang disasar adalah internasional. Strategi penjualan dengan menggelar produk di depan tempat industri maupun menitipkan di toko-toko harus diubah dengan memasarkan dagangan di lapak online.

"Jangan bangga jadi importir, namum banggalah jadi eksportir. Sudah saatnya produk-produk dalam negeri dikenal dan dipasarkan ke internasional serta menguasai dunia," tambahnya.

Endar Budi Setyono mengatakan Hipo Internasional merupakan fitur online tempat dimana para anggota memasarkan berbagai jenis usahanya secara online. Organisasi ini bukanlah multi level marketing (MLM), melainkan himpunan sejumlah pengusaha untuk mengelola unit bisnis yang bisa memberikan penghasilan untuk menyejahterakan para anggotanya.

Sementara itu Kepala Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM, Dr Riza Noer Arfani dalam kesempatan ini menyampaikan sebanyak 248.899 UMKM terdapat di DIY. Dari jumlah tersebut sektor mikro sebanyak 143.610 usaha, kecil 65.642 usaha dan menengah 39.647 usaha.

"Usaha menengah jumlahnya memang paling sedikit dibanding yang mikro maupun kecil. Namun demikian usaha menengah memiliki peran penting penting untuk menarik usaha mikro dan kecil," kata Riza Noer Arfani.

Ia mengatakan nama besar Yogya sudah menjadi modal awal bagi para pelaku UMKM untuk memulai usahanya. Pendidikan maupun pariwisata dapat dibidik karen dua sektor tersebut menjadi magnet kuat orang untuk datang ke Yogya. (*)

BERITA REKOMENDASI