Industri MRO Indonesia Harus Tingkatkan Kapasitas

JAKARTA. KRJOGJA.com – Industri perawatan pesawat (maintenance, repair and overhaul/MRO) dalam negeri diprediksi akan mengalami peningkatan, seiring dengan semakin tumbuhnya bisnis angkutan udara di Tanah Air. Sayangnya, industri MRO lokal baru mampu menyerap 35 persen saja dan selebihnya dikuasai pemain asing.
 

"Pertumbuhan industri transportasi udara sangat cepat. Jika potesi ini tidak dimanfaatkan, seiring dengan peningkatan pemesanan pesawat bagi maskapai, maka lima tahun mendatang kita akan kehilangan potensi hingga 2 miliar dolar AS,” kata Ketua Umum Indonesia Aircraft Mantenance Services Association (IAMSA), Richard Budihadianto, di selapembukaan Konferensi Aviation MRO Indonesia (Amroi), di Jakarta, Rabu (13/09/2017).
            
Richard mengungkapkan, saat ini dalam setahunnya biaya yang dikeluarkan semua maskapai di Indonesia untuk perawatan pesawat mencapai 1 miliar dolar AS. Diperkirakan, dalam lima tahun mendatang potensi bisnis MRO ini nilainya akan mencapai 2 miliar dolar AS, sehingga industri lokal jika tidak meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya maka berpotensi kehilangan pendapatan tersebut.

Richard mengakui, keterbatasan kapasitas perawatan pesawat merupakan kendala tidak terserapnya pasar domestik. Sementara, pertumbuhan pesawat begitu cepat ditandai dengan terus banyaknya pesawat yang dipesan maskapai nasional.
            

Menurut Richard, salah satu penyebab terbatasnya kapasitas perawatan pesawat karena kurangnya sumber daya manusia di bidang perawatan, selain juga fasilitas bengkel MRO. Untuk itu ia menyarankan, agar diperbanyak sekolah teknik pesawat yang didukung dengan tempat praktik untuk menerima lulusannya.

"Apabila industri MRO ingin benar-benar menyerap potensi 2 miliar dolar AS tersebut, maka diperlukan kerjasama antara perusahaan MRO dengan politeknik,” ujar Richard.

Richard menambahkan, membangun MRO diperlukan waktu paling tidak dua atau tiga tahun. Tetapi untuk mempercepat SDM dengan kemampuan mumpuni di bidang teknik perawatan pesawat, setidaknya dibutuhkan waktu lima tahun. “Politeknik yang punya jurusan aviasi ini sangat sedikit, sekitar 24 orang satu kelas. Lulusannya hanya 200 orang per tahun, padahal butuhnya sampai 1.000 orang per tahun,” katanya. (Imd)
 

BERITA REKOMENDASI