INFA Dukung Kapal Ferry Bebas Kendaraan ODOL

JAKARTA.KRJOGJA.com – Asosiasi Pemilik Kapal Ferry Nasional Indonesia (Indonesian National Ferryowners Association/INFA) mendukung program Pemerintah berkaitan dengan keselamatan transportasi yang diwujudkan dalam program bebas ODOL (Over Dimenssion Over Load) di lingkungan pelabuhan penyeberangan.

“INFA sangat mendukung pemberlakuan pengaturan dan pelarangan kendaraan yang melanggar ketentuan dimensi dan melanggar ketentuan batas muatan (ODOL), yang akan dilakukan oleh Pemerintah pada pelayanan angkutan penyeberangan,” kata Ketua Umum INFA, Eddy Oetomo di Jakarta, Kamis (27/02/2020).

Pelabuhan Penyeberangan Merak dan Bakauheni menjadi pelabuhan penyeberangan yang pertama akan menerapkan pengaturan dan pelarangan kendaraan ODOL tersebut. Rencana uji coba dan sosialisasi sudah dikoordinasikan antara pihak Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan dengan PT. ASDP Indonesia Ferry serta para stakeholder (para pemilik kapal ferry dan pengusaha angkutan penyeberangan).

“Insyaa Allah mulai 1 Mei 2020, Pelabuhan Penyeberangan Merak dan Bakauheni siap untuk tidak akan melayani kendaraan ODOL masuk ke pelabuhan dan kapal-kapal ferry yang ada tidak akan menyeberangkan kendaraan tersebut dari Merak ke Bakauheni maupun sebaliknya,” ungkap Eddy.

Lebih lanjut Eddy menjelaskan, menyeberangkan kendaraan ODOL bukan hanya dapat merugikan karena dapat merusak rampdoor dan mobile bridge yang berujung pada ketidaklancaran proses embarkasi dan debarkasi (loading dan unloading) muatan kendaraan dari dan ke kapal ferry.
“Kendaraan ODOL juga mengganggu keselamatan penyeberangan, mengingat penempatan kendaraan ODOL dapat mengganggu keseimbangan pelayaran kapal ferry itu sendiri,” tegasnya.

Eddy juga mengungkapkan, banyak kasus di mana sering kendaraan ODOL mengakibatkan rampdoor pada kapal ferry atau mobile bridge pada dermaga itu rusak atau patah. Akibatnya, kelancaran arus kendaraan di penyeberangan terganggu dan kerugian biaya serta waktu operasi yang dialami pihak penyelenggara kapal ferry sangat tidak sedikit.

“Bila rampdoor kapal patah, biayanya dapat mencapai miliaran rupiah. Ini harus ditanggung pengusaha kapal ferry. Belum lagi bila untuk memperbaiki kerusakan tersebut harus mengorbankan waktu operasi kapal ferry yang bersangkutan,” Jelas Eddy.

INFA menganggap tepat pelaksanaan bebas ODOL bila dikonsentrasikan di pelabuhan penyeberangan. Pasalnya, pelabuhan penyeberangan sebagai simpul transportasi yang dapat menjaring pelanggaran ODOL untuk tidak melanjutkan perjalanan (memutus mata rantai pelanggaran ODOL).

Guna mencegah pelanggaran ODOL tersebut, kata Eddy, yang paling penting di pelabuhan penyeberangan itu sudah dilengkapi peralatan seperti portal dan jembatan timbang. Selain itu juga didukung Sumber Daya Manusia (SDM) yang memadai dan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang baku dan disiplin dalam pelaksanaannya. (Imd)

BERITA REKOMENDASI