Pemerintah Diminta Segera Tetapkan Batas Toleransi ‘Odol’

Pemerintah Diminta Segera Tetapkan Batas Toleransi ‘Odol’

JAKARTA.KRJOGJA.com – DPP Organda mengusulkàn, agar Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan segera menetapkan tahapan dan penentuan batas akhir toleransi terhadap operasional kendaraan over dimension dan over loading (Odol) di jalan.

Usulan tersebut bukan tanpa alasan, karena dari pengamatan DPP Organda tidak jarang kecelakaan lalu lintas disebabkan rem blong kendaraan pelanggar Odol. “Tidak berfungsinya rem ini dipicu oleh ketidakmampuan sistem pengereman karena kelebihan dimensi dan muatan,” ujar Sekjen DPP Organda, Ateng Aryono, di Jakarta, Kamis (13/02/2020).

Ateng mengatakan, jika kecelakaan angkutan logistik terjadi sebagai akibat Odol karena kelalaian dalam menjalankan ketentuan yang semestinya dijalankan, sudah saatnya semua pihak mawas diri dan melakukan langkah korektif yang sistematis agar kejadian serupa tidak terulang lagi.

“Masalah ini tidak bisa terlepas dari dukungan industri kendaraan dan pendukungnya. Semua harus mengambil langkah nyata, agar dapat tercipta anti Odol di industri angkutan logistik jalan raya dengan baik,” kata Ateng.

Ateng mengungkapkan, sampai saat ini sistem rantai pasok di Indonesia masih menggunakan standar pada distribusi barang dengan menggunakan ukuran biaya pada kondisi Odol. Untuk itu, sudah saatnya Kementrian BUMN dan Perindustrian secepatnya menyusun sistem biaya distribusi logistik dengan memperhatikan kendaraan Non Odol.

DPP Organda memandang perlu faktor keberlangsungan sistem transportasi Indonesia, dan mendorong Pemerintah untuk segera menerbitkan Peraturan Presiden mengenai kebijakan toleransi kendaraan Odol di Indonesia. “Sekaligus pengaturan larangan penggunaan kendaraan Odol di Indonesia untuk pembangunan proyek pemerintah dan BUMN sebagai landasan action kementrian terkait,” ujar Ateng.

Terkait kecelakaan lalu lintas di tol Cipali KM 123 arah Jakarta terjadi akibat truk over dimension over loading, Ateng Aryono sangat prihatin atas kejadian yang terus berulang. Menurutnya Pemerintah harus mulai tegas melakukan tindakan hukum kepada siapun yang melanggar aturan, kalau perlu dengan tangan besi.

Kendaraan yang bermuatan lebih tentu kecepatannya tidak dapat maksimal, apalagi di jalan tol ada aturan batas minimal kecepatan. DPP Organda sudah berulang kali mengimbau kepada anggotanya agar kendaraan yang over dimensi segera melakukan normalisasi. Seperti potong bak truk dan sasis yang tadinya dimodifikasi jadi lebih panjang, sesuaikan dengan SK Rancang Bangun.

Menurut Ateng, kejadian Cipali menjadi pelajaran bagi semua pihak, otoritas penyelenggaraan, otoritas penegakan aturan, para pemain transportasi logistik di jalan raya, termasuk para pemilik barang. “Bahwa keselamatan haruslah menjadi sasaran utama dalam penyelenggaraan LLAJ dan tidak bisa ditawar lagi,” tegasnya.

Para pemangku kepentingan sangat menyadari bagian vital dalam sebuah perusahaan transportasi adalah sumber daya manusia. Oleh karena itu perlindungan terhadap sumber daya manusia sangat diperlukan dalam sebuah perusahaan.

Kecelakaan di Cipali menunjukkan alpanya perusahan terhadap alat ukur risiko kecelakaan kerja dengan metode identifikasi bahaya menggunakan Hazard Identification and Risk Assessment (HIRA). Kasus Cipali dengan patahnya as roda pastilah bukan hal yang tiba-tiba terjadi, dapat dipastikan memberikan muatan dalam truck tidak sama dengan kapasitasnya.

Dalam kaitan ini, DPP Organda juga mendukung program Pemerintah untuk peremajaan angkutan umum barang. Termasuk untuk beralih dengan penyesuaian kendaraan multiexel dan anti Odol.

“Kendaraan multiexel dinilai cukup bagus selama mematuhi ketentuan muatan dengan sumbu terberat tidak melebihi 10 ton karena beban kendaraan dan barang muatannya terdistribusi ke beberapa sumbu yang ada,” kata Ateng

Demi investasi ke depan, para pelaku usaha siap membeli kendaraan dengan spesifikasi multiexel, meskipun saat ini kendaraan yang ada dengan spesifikasi lama tetap diizinkan beroperasi. Ke depan pelaku usaha akan melakukan investasi jenis kendaraan multiexel. (Imd)

BERITA REKOMENDASI