Pertumbuhan Industri Gula Melambat

JAKARTA (KRjogja.com) – Produksi Gula Kristal Putih (GKP) yang diproduksi dengan bahan baku tebu dari perkebunan tebu dari dalam negeri mengalami peningkatan. Namun pertumbuhannya relatif melambat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Faiz Ahmad menjelaskan, produksi GKP pada 2015 mencapai 2,5 juta ton. Angka tersebut meningkat jika dibandingkan produksi pada 2000 sebesar 1,7 juta ton.

"Sedangkan pertumbuhan produksi GKP, menurun dari 6,4 persen per tahun selama 2001-2005, menjadi 0,5 persen per tahun pada 2006 -2010 dan meningkat menjadi 2 persem per tahun pada 2011-2015," terangnya dalam keterangan tertulisnya, Selasa (9/8/2016).

Menurut catatan Faiz, rata-rata produksi selama lima tahun terakhir sebesar 2,5 juta ton per tahun. Angka tersebut hanya sedikit meningkat dari rata-rata produksi pada 2006-2010 sebesar 2,37 juta ton per tahun.

Oleh karena itu menurut Faiz, jika suplai GKP tidak mencukupi kebutuhan, maka diperlukan impor gula.

"Impor gula diperlukan karena produksi GKP tidak dapat memenuhi kebutuhan, terutama bagi kebutuhan industri. Industri gula rafinasi hadir untuk memenuhi kebutuhan gula yang tidak dapat dipenuhi dari dalam negeri," imbuhnya.

Faiz menambahkan, pasokan gula ke pasar domestik berasal dari produksi GKP di dalam negeri dan gula rafinasi (GKR) baik produksi nasional maupun impor.

"Kadang-kadang, untuk memanfaatkan kapasitas terpasang, industri gula berbasis tebu diizinkan mengimpor gula mentah untuk diolah menjadi GKR. Impor langsung GKR harus dilakukan un‎tuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri makanan, minuman dan farmasi," tandasnya. (*)

 

 

 

 

BERITA REKOMENDASI