Putus Keagenan Kargo, Garuda Indonesia Dinilai Arogan

JAKARTA.KRJOGJA.com – Pengelola kargo Garuda Indonesia melakukan pemutusan keagenan sepihak dengan mitra bisnis tanpa alasan maupun teguran. Tindakan ini dinilai sebagai sikap arogansi dalam pemutusan ini tidak disertai penyebabnya. 

Komisaris PT Sumber Jaya Limec Cargo (SJL) Edward Harlin mengatakan, sebagai mitra bisnis di bidang keagenan kargo udara yang sudah 15 tahun harusnya tidak diperlakukan seperti ini (pemutusan sepihak).

"Kalau kami salah, sebutkan kesalahannya, jangan main putus, memangnya kami salah apa. Apa kami perusahaan kecil yang tidak ada backing diperlakukan seperti ini," kata Edward pada awak media, di Jakarta, Jumat (22/03/2019).

Direktur Utama SJL Lim Bendy membenarkan adanya pemutusan sebelah pihak. Padahal, kontribusi SJL ke kargo Garuda rata-rata 600 ribu ton atau senilai Rp 69 miliar per tahun.

Dijelaskan Lim, pemutusan sepihak tersebut diawali dengan pihak direksi Garuda menanyakan soal tarif kargo domestik yang dikelola SJL. Untuk memenuhi kuota yang ditargetkan, SJL diberikan tarif lebih murah dari tarif umum.

Namun ketika kuota dipenuhi, direksi  malah mencurigai SJL memberikan upeti kepada petugas-petugas Kargo Garuda Indonesia sehingga bisa diberikan tarif lebih murah. "Saya disuruh mengakui melakukan sogokan uang kepada petugas kargo. Saya tidak pernah melakukan itu, makanya saya tidak mengakui, dan ujung-ujungnya perusahaan saya, SJL diputus dari keagenan," ungkap Lim.

Pemutusan keagenan sepihak oleh Kargo Garuda Indonesia dilakukan melalui surat nomor GARUDA/JKTGCA/20049/19 pada 4 Februari 2019 yang ditandatangani oleh Pjs. GM Cargo Sales Area Jakarta Raya Anandhito Prakoso. Pemutusan keagenan itu disebutkan, merujuk pada syarat dan ketentuan keagenan kargo domestik dan internasional Pasal 18 mengenai pencabutan status keagenan kargo.

Lim mengatakan, selama masih berlangsungnya kerjasama dengan Garuda Indonesia, SJL mengirim kargo ke Jakarta, Medan, Banjarmasin dan Manado. "Bank garansi yang kami setorkan ke Garuda Indonesia sebagai jaminan keagenan sebesar Rp 2 miliar plus uang koreksi Jakarta – Medan sebesar Rp 400 juta. Uang itu masih mengendap di Garuda Indonesia belum diberikan," tegasnya.

Lim juga mengaku sangat kecewa dengan tindakan pemutusan sepihak yang dilakukan Garuda Indonesia ini. Lim pun berencana membawa kasus ini ke ranah hukum.

"Kami kan pedagang. Kalau ada pejabat yang (Garuda Indonesia) nakal di internal benahi di internal, kenapa kami yang disalahkan. Kami sangat kecewa dengan sikap arogan Direksi Garuda Indonesia," tegas Lim (Imd)

BERITA REKOMENDASI