Risiko Membaik, Kredit UMKM Malah Melambat

JAKARTA, KRJOGJA.com – Kredit UMKM tumbuh melambat ditengah risiko kredit yang membaik. Kredit UMKM pada Agustus 2018 tumbuh 8,11% Year of Year (YOY), melambat dibanding periode sebelumnya 9,9% (YOY).

"Di sisi lain rasio NPL kredit UMKM membaik menjadi 4,08% dibandingkan Juli 2018 sebesar 4,31%," kata Corporate Secretary dan Chief Economist BNI, Ryan Kiryanto, di Jakarta, Rabu (07/11/2018).

Namun Ekonom BNI itu mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan ketiga tahun ini diperkirakan masih cukup tinggi yang didorong permintaan domestik, namun lebih rendah dari perkiraan semula akibat penurunan ekspor netto.

Menurut Ryan, kuatnya permintaan domestik mendorong impor. "Impor tumbuh tinggi sejalan dengan permintaan domestik, meskipun pertumbuhan impor bulanan telah menunjukkan perlambatan," jelasnya.

Sebaliknya, pertumbuhan ekspor lebih terbatas disebabkan kinerja ekspor komoditas andalan, seperti hasil pertanian dan pertambangan yang tidak sekuat perkiraan.

Sementara, neraca perdagangan pada September 2018 mencatat surplus 0,23 miliar dolar AS, membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang defisit 0,94 miliar dolar AS. Perbaikan tersebut, kata Ryan, ditopang oleh surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat dan defisit neraca perdagangan migas yang menurun. "Secara komulatif, neraca perdagangan mencatat defisit 3,78 miliar dolar AS," ujarnya.

Ryan juga memprediksi suku bunga acuan Bank Indonesia 7 day reverse repo rate (7 DRRR) diperkirakan akan naik 25 basis poin atau 0,25% pada akhir tahun ini. Kenaikan ini untuk mengantisipasi kenaikan suku bunga The Fed. 

"Bunga acuan BI 7DRR rate naik pada Desember 2018 untuk mengantisipasi kenaikan Fed Fund Rate,” Ryan.

Menurut Ryan, kenaikan bunga The Fed ini akan didorong oleh meningkatkan inflasi di AS. Sebagai informasi, saat ini inflasi di AS mencapai 2%. Angka inflasi ini cukup krusial bagi negara sebesar AS. Oleh karena itu, diperkirakan The Fed akan berusaha menjinakkan inflasi ini dengan menaikkan suku bunga.

BI sebagai bank sentral negara berkembang, jelas Ryan, sebaiknya menyesuaikan suku bunga acuannya pada akhir tahun. Hal ini agar risiko usaha dan nilai tukar tidak mengalami tekanan yang berlanjut.

Arah kebijakan Bank Indonesia, kata Ryan, telah menetapkan bahwa BI 7-Day Reverse Repi Rate tetap 5,75 persen, Suku Bunga Deposit Facillity tetap 5.00 persen, dan Suku Bunga Lending Facillity sebesar 6.50 persen. (Imd)

BERITA REKOMENDASI